
INDAHNYA tak sebatas kata-kata. Menoleh sedikit ke bagian selatan Papua Barat, ada sebuah daerah otonom berstatus kabupaten yang terkenal dengan julukan ‘Kota Senja Indah Kaimana.’ Negeri dengan sejuta keindahan ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Fakfak.
Kabupaten ini lahir pada 12 April 2003, dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan 14 Kabupaten di Papua.
Secara geografis, Kabupaten Kaimana memiliki luas 36.000 km², terdiri dari daratan ±18.500 km² dan lautan/perairan ±17.500 km². Daerah ini juga memiliki ± 330 pulau-pulau kecil yang terbentang dari Pigo sampai Ure, dengan panjang garis pantai 2.436.765 km.
Kaimana sendiri berada di 02,90”-04,20” Lintang Selatan dan 132,75”-135,15” Bujur Timur, dengan ketinggian 0-1000 meter diatas permukaan laut. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wandama; sebelah timur dengan Kabupaten Nabire, Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Mimika; sebelah selatan dengan Laut Arafuru; serta sebelah barat dengan Kabupaten Fak-Fak.
Negeri yang saat ini dihuni oleh 62.000 lebih penduduk ini, telah melewati tiga kali pergantian tampuk pimpinan melalui sebuah proses pemilihan umum. Kini di periode ketiga 2016-2021, dipimpin Bupati Matias Mairuma dan Wakil Bupati Ismail Sirfefa.
Benar adanya, negeri yang berbatasan langsung dengan tiga kabupaten di wilayah Provinsi Papua dan tiga kabupaten di Papua Barat ini, menyimpan begitu banyak keindahan yang tak hanya sebatas kata-kata. Diantaranya…

Senja Indah
Dua kata ini cukup mengembalikan ingatan kita tentang Kaimana. Bagaimana tidak, karena setiap menyebutnya, perhatian orang pasti langsung tertuju pada sebuah nama yang sejak tahun 1960-an populer lewat lagu ‘Senja di Kaimana’ yang dinyayikan alm. Alfian.
Mendiang pencipta lagu ini memang tak pernah salah melukiskan keindahan senja di Kaimana. Ia telah dengan jujur mendeskripsikan keindahan Kaimana lewat sebuah syair lagu.
Panorama senja di Kaimana memang indah. Dan keindahannya tak hanya sebatas kata-kata. Karya besar sang khalik yang hadir di petang hari ini, selalu meninggalkan rasa yang sulit dilupakan sang penikmat.
Bahkan pancaran sinar jingganya yang meskipun hanya sekedar melintas menuju peraduan, mampu menghipnotis siapa saja yang memandangnya. Namun terkadang, hadirnya yang hanya sesaat seringkali meninggalkan luka di hati, karena dia menghilang saat lagi senang-senangnya.
Tetapi menikmati senja di Kaimana memang merupakan pilihan yang tepat. Tidak perlu bersusah payah mencarinya, karena setiap titik dalam kota adalah tempat terindah untuk memandangnya.
Jika belum melihat panorama Senja di Kaimana, maka belum lah genap ceritamu tentang Papua.

Kolam Sisir
Tidak hanya senjanya yang benar-benar indah, tapi Kaimana juga menyimpan keindahan lain yang sayang jika tidak dikunjungi. Kolam Sisir, begitu obyek wisata yang satu ini disebut.
Tempat wisata alternatif ini berada di Kampung Marsi, Distrik Kaimana, tepatnya di jalur darat perlintasan menuju Triton. Mengunjunginya bukanlah hal yang sulit karena untuk menjangkaunya, hanya dibutuhkan waktu 20 menit berkendaraan.
Obyek wisata yang belakangan kian trend ini, merupakan bagian dari tepian air laut yang berbentuk cekung. Airnya yang tenang, jernih dan terkadang berwarna hijau karena paparan sinar matahari yang diserap klorofil pada fitoplankton, membuat tempat ini indah untuk dipandang.
Letaknya yang tak jauh dari pusat kota, membuat tempat ini selalu dipadati warga. Tidak hanya pada hari libur, tetapi juga hari-hari biasa banyak warga berkunjung kesini. Mendukung keberadaannya sebagai salah satu destinasi pariwisata alternatif, telah dibangun sejumlah fasilitas pendukung seperti menara pandang dan lainnya.

Gunung Eman’sir Sebuah Kisah Tentang Garuda
Bergeser sedikit ke bagian jakun burung dalam peta pulau Papua, ada sebuah kampung yang dari sana mengurai cerita sejarah tentang lambang negara burung garuda. Kampung ini namanya Lobo dan dibelakangnya terdapat gunung tinggi menjulang bernama Eman’sir, yang konon menjadi tempat persembunyian burung garuda masa itu.
Burung yang dalam bahasa Mairasi disebut ’Iyamba’ ini, konon oleh Presiden pertama RI Soekarno, dijadikan sebagai lambang negara, dengan nama burung Garuda.
Kampung dengan jarak tempuh 2 jam dari Kota Kaimana menggunakan transportasi laut ini, dihuni oleh masyarakat suku besar Mairasi. Kampung ini pernah dikunjungi Menteri Negara PMK Puan Maharani, yang juga merupakan cucu Presiden pertama RI Soekarno.
Begini ringkas ceritanya, iyamba merupakan burung yang sangat besar dan bersayap sangat lebar. Saban hari, makanannya adalah binatang hutan, ikan, bahkan juga manusia. Ia selalu terbang jauh mencari makan, tetapi sejauhmana pun ia terbang, selalu kembali ke gunung Emansiri.
Pada masa yang sama, zaman penjajahan, Soekarno dibuang ke Papua dan dipenjara di Boven Digoel. Kepadanya diceritakan tentang Iyamba yang bersarang di gunung Eman’sir.
“Saat di penjara, paman saya berceritera tentang burung itu, lalu akhirnya dijadikan sebagai lambang negara dengan nama burung Garuda,” ungkap Beny Wariensi, tokoh adat Mairasi. Soekarno juga konon mengambil sebuah kayu bernama Timomor dari gunung Emansiri, yang digunakan sebagai tongkat komando.

Benteng Fort du Bus
Masih di tempat yang sama, Kampung Lobo. Ada pula penggalan cerita sejarah peninggalan Perang Dunia II. Benteng Fort du Bus, begitu namanya. Benteng yang dibangun Belanda ini menjadi bukti kekuasaan Belanda atas Papua Nieuw Guinea.
Nama benteng ini diambil dari nama seorang Jenderal asal Hindia Belanda bernama Leonard Piere Joseph Burggraaf du Bus de Ghisignes. Benteng ini diresmikan pada 24 Agustus 1828, bertepatan dengan ulang tahun Raja Willem I.
Pada tahun 1835, berdasarkan persetujuan pemerintah Belanda di Ambon, seluruh prajurit ditarik dari Kaimana karena terjadinya perubahan iklim dan mewabahnya penyakit malaria. Benteng ini, kini sangat dijaga baik oleh masyarakat setempat sebagai situs wisata sejarah.

Lukisan Batu Mezolitikum
Letaknya searah menuju kampung Lobo. Lukisan dinding batu atau yang biasa disebut tapak tangan ini, merupakan peninggalan zaman prasejarah. Lukisan ini dapat dijumpai di Tanjung Bitcari dan Kampung Mai-Mai Distrik Kaimana.
Beberapa corak lukisan yang masih bisa dikenali adalah gambar telapak tangan, ikan, cicak, udang, bunga. Beberapa lainnya mulai tampak memudar. Lukisan zaman prasejarah mezolitikum ini, berderet sepanjang satu kilometer tebing batu.
Menjangkaunya sangat mudah, cukup berlayar menggunakan perahu motor, bahkan bisa sambil menyelam terutaman yang hobi berenang. Keberadaan lukisan ini masih diteliti oleh Balai Arkeologi, sehingga belum diketahui arti dari setiap corak yang tergambar.
Namun bila diamati sepintas, lukisan ini sepertinya, selain merupakan cara mereka berkomunikasi pada zaman itu, kemungkinan juga menjadi media bagi mereka untuk belajar, atau hanya sekedar menghilangkan rasa jenuh.

Hiu Paus Erana
Hiu paus di Erana merupakan salah satu objek wisata yang populer belakangan ini. Lokasi yang berjarak tempuh 90 menit dari kota Kaimana ini, menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun asing. Menyempatkan diri mengunjungi lokasi wisata hiu paus Erana merupakan keputusan yang bijak.
Bijak karena hiu paus biasanya sulit dijumpai, tetapi perairan Kaimana yang terkenal dengan julukan the king of fish atau kerajaan ikan ini, justru menjadi tempat bersarangnya hiu paus.
Maka akan menjadi sesuatu yang istimewa ketika bisa berada dekatnya bahkan memeluknya. Ia begitu jinak, sehingga mudah bagi pengunjung untuk menggapainya.
Berdasarkan penelitian Conservation International (CI), jumlah hiu paus yang mengitari perairan Erana 12 ekor, dengan panjang berkisar 6 hingga 12 meter.
Bertemu dengannya cukup dengan menjatuhkan plankton, ikan kecil yang menjadi kegemarannya, dari atas bagan milik nelayan. Banyak pengunjung mengabadikan momen kemunculannya untuk berfoto selfie.

Teluk Triton
Surga kecil jatuh ke bumi, ungkapan ini klasik, tetapi tepat untuk menggambarkan keindahan wisata bahari Teluk Triton. Deretan bebatuan kartz berselimutkan pepohonan hijau, dengan lautnya yang tenang, bening dan tampak kehijauan, menjadikan tempat ini indah untuk dipandang.
Letaknya yang berada dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) membuat lokasi ini cukup steril dari ancaman. Kondisi lingkungannya, serta kenekaragaman hayati yang ada didalamnya, baik ikan maupun terumbu karang benar-benar terjaga.
Karang lunak adalah salah satu daya tarik alam bawah laut Teluk Triton. Surga yang tersembunyi ini, kini mulai dikenal oleh para ahli biologi laut, para penyelam, maupun mereka yang suka menikmati matahari terbenam.
Jaraknya hanya 2 jam dari kota Kaimana, searah menuju gunung garuda, lukisan dinding maupun wisata hiu paus Erana. Disini pengunjung bisa menyentuh langsung bebatuan kartz dengan pepohonan diatasnya. Jujur suasananya memang relatif sama dengan Raja Ampat, tetapi keindahannya lebih bervariatif.
Para pengunjung menjuluki Teluk Triton dengan sebutan ”The Lost Paradise” atau surga yang hilang. Bahkan ada pula pengunjung yang sempat melakukan penyelaman, menyebutkan tempat ini dengan kalmat “The Fish Empire” atau kerajaan ikan yang sesungguhnya.

Airmoon Paradise
Jangan dulu beranjak, karena di area perlintasan Teluk Triton, ada pula sebuah tempat yang disebut Ermun atau Airmoon. Sebuah tempat pemandian dengan bentangan pantai berpasir putih. Letaknya yang sedikit tersembunyi dibalik bebatuan kartz, menjadikan tempat ini nyaman untuk aktivitas yang bersifat privasi.
Selain berenang, pengunjung bisa melakukan snorkeling. Lokasi ini kian indah karena selain didukung hamparan pasir putih yang lembut, balutan pepohonan kelapa yang berderet rapi di tepi pantai juga turut menghadir kesejukan tersendiri.
Tak jauh dari tempat pemandian, terdapat sebuah sumber air tawar yang konon tidak pernah kering, meski didera kemarau panjang. Namun mata air ini sulit dipandang karena berada dibawah rimbunan pohon.
Mendukung keberadaan Ermun sebagai salah satu destinasi pariwisata alternatif, Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata mendirikan beberapa buah resort alami berbahan dasar kayu.
Resort yang dilengkapi ruang tamu, ruang tidur dan MCK, dengan fasilitas pendukung termasuk air bersih ini, diserahkan pengelolaannya kepada pemilik ulayat.

Pantai Pink Aiduma
Masih di wilayah yang sama yakni Distrik Kaimana. Ada sebuah pantai dengan pasirnya yang berwarna pink. Pantai berwarna pink ini berada di pulau Aiduma atau Selat Iris, dengan jarak tempuh kurang lebih 2 jam dari kota Kaimana.
Pasir pink di pantai ini dibentuk oleh pasir yang berasal dari serpihan coral merah yang ada disekitar pantai tersebut. Pasir yang berasal dari koral merah tersebut terhempas dan bercampur dengan pasir putih di pantai, sehingga menjadi warna merah muda atau pink.
Pantai ini akan terlihat lebih merah sehabis musim angin Timur. Saat air laut pasang, tumpukan pasir merah ikut terhempas ke pantai dalam jumlah yang banyak dan berserakan disepanjang tepi pantai.

Rumah Penyu Pulau Venue
Berlayar sedikit menuju wilayah adat Madewana. Disana ada sebuah tempat atau rumah kelahiran penyu yang biasa disebut Pulau Venue. Luasnya hanya sekitar 15 hektar dan merupakan bagian dari wilayah Kampung Adi Jaya, Distrik Buruway.
Di pulau berpasir putih ini, banyak penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu lekang (Lepidochelysolivacea). Berkunjung kesana, kita bisa menyaksikan langsung proses penyu bertelur. Selain penyu, ada juga keindahan alam lainnya yang bisa dinikmati disana.
Wilayah disekitar Pulau Venu, memiliki persentase tutupan terumbu karang sebesar 64% pada kedalaman 5 meter dan 48% pada kedalaman 12 meter. Pulau venu juga merupakan daerah pembesaran ikan karang, serta lokasi potensial untuk penyelaman.
Biomasa dan kelimpahan ikan ekonomis mencapai lebih dari 19.000 kg/ha dan 55.000 ekor/ha. Keindahan lain pulau venu adalah, pada siang hari, pengunjung bisa melihat ratusan ekor kelelawar bergantung di pohon. Jarak tempuh dari kota Kaimana kurang lebih 90 menit menggunakan perahu motor.

Air Terjun Karawawi
Masih di wilayah yang sama, Distrik Buruway. Ada pula air terjun Karawawi, yang merupakan salah satu destinasi wisata baru di wilayah Kabupaten Kaimana.
Obyek wisata ini terletaknya di Kampung Nusaulan. Curahan air dari ketinggian 140 meter membuatnya indah untuk dipandang. Selain menikmati air terjun, di tempat ini pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam hutan tropis.
Belum banyak yang berkunjung ke kawasan ini, karena selain jauh dan membutuhkan waktu berlayar sekitar 3 jam dari Kota Kaimana, tempat ini juga begitu banyak dikenal oleh masyarakat lokal.

Danau Yamor
Jauh dimata, dekat di hati, begitu kira-kira deskripsi tentang Yamor. Sebuah distrik di wilayah Kabupaten Kaimana, dengan 6 kampung didalamnya yang berada paling jauh dari ibukota kabupaten.
Negeri yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Nabire dan Dogiyai ini, menyimpan keindahan tersendiri yang tak dimiliki daerah lainnya. Disana terdapat danau besar dengan keanekaragaman hayati atau biodiversitasnya yang menarik untuk dikunjungi.
Potensi biodiversitas itu tersembunyi di Danau Urubika, Danau Manani, Danau Mutapa dan Danau Kumaike atau yang lazim disebut danau Yamor. Didalam danau ini terdapat 33 spesies ikan, satu diantaranya diprediksi merupakan endemic danau Yamor, yang diberi nama kakap Yamor atau varia jamoerensis.
Selain ikan, di danau Yamor juga terdapat 10 jenis tumbuhan air, seperti kangkung air, eceng gondok, teratai dan lainnya.
Berdasarkan digitasi citra landsat, danau Urubika merupakan danau terluas dari danau lainnya yakni 3.843 Hektar (57,2%), menyusul Danau Kumaike seluas 1.025 hektar (15,2%), Danau Manami seluas 974 Hektar (14,5%), Danau Mutapa 882 hektar (13,1%).
Danau Manami dialiri oleh 15 sungai kecil, antara lain; Sadidor, Manami dan Ogawa. Sedangkan danau Mutapa dan Kumaike dialiri oleh 14 sungai kecil.
Dan masih banyak lagi cerita tentang keindahan Kaimana yang belum sempat terekam. Cerita indah tentang Kaimana bukan hanya tentang alam, tetapi budaya dan adat istiadatnya juga unik untuk ditelusuri.
Catatan: Isabela Wisang
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik