Home / Opini / KEPADA SIAPA PEREMPUAN MENGADU?

KEPADA SIAPA PEREMPUAN MENGADU?

Bagikan Artikel ini:

0leh: RAHMIANI TIFLEN, S.Kep

PEREMPUAN adalah tonggak sebuah dari peradaban. Ditangan merekalah kelak para generasi cemerlang itu akan dilahirkan. akan tetapi jika ditilik secara fakta yang ada, hingga hari ini ternyata perempuan masih sering mengalami perlakuan buruk di tengah masyarakat. Data yang disampaikan oleh komnas perempuan melalui laman resminya tercatat bahwa kasus yang paling menonjol sepanjang tahun 2020 adalah sebagai berikut.

Di Ranah Personal (RP) atau disebut KDRT/RP (Kasus Dalam Rumah Tangga/ Ranah Personal) sebanyak 79% (6.480 kasus). Diantaranya terdapat Kekerasan Terhadap Istri (KTI) menempati peringkat pertama 3.221 kasus (50%), disusul kekerasan dalam pacaran 1.309 kasus (20%) yang menempati posisi kedua. Posisi ketiga adalah kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 954 kasus (15%), sisanya adalah kekerasan oleh mantan pacar, mantan suami, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga.

Kekerasan di ranah pribadi ini mengalami pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bentuk kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan fisik 2.025 kasus (31%) menempati peringkat pertama disusul kekerasan seksual sebanyak 1.983 kasus (30%), psikis 1.792 (28%), dan ekonomi 680 kasus (10%).

Berangkat dari fakta tersebut diatas dan dipenghujung bulan yang digadang sebagai hari perempuan internasinal (International Woman’s Day) namun pada kenyataannya kererasan yang terjadi di kalangan perempuan tetap saja berlangsung hinggga hari ini. Hal tersebut tidak saja terjadi di kota-kota besar akan tetapi merambat hingga ke pelosok desa bahkan pedalaman sekalipun. Tidak terkecuali dengan kabupaten Kaimana yang kita cintai bersama.

Baca Juga:  Politik Identitas dan Retorika Dalam Momentum Pilkada

Secara data yang tercatat sepanjang tahun 2017 hingga hari ini memang tidak tampak adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan pada perempuan baik itu KDRT maupun kasus kekerasan lainnya. Namun pada kenyataannya rendahnya angka kekerasan tersebut bukan disebabkan oleh tingginya pemahaman serta adanya keamanan bagi perempuan di tengah masyarat tapi lebih disebabkan rendahnya pengetahuan masyarakat yang dalam hal ini adalah perempuan dalam upaya pencegahan serta penaggulangan kasus-kasus tersebut diatas. Perempuan masih enggan untuk melakukan pelaporan terkait kekerasan baik yang yang dialaminya ataupun yang dialami oleh perempuan lainnya. Ini belum termasuk kekerasan pada anak.

Berangkat dari fakta-fakta miris tersebut di atas mari sejenak kita fokuskan pada sebuah fakta baru yang terjadi beberapa hari lalu. Tepatnya pada tanggal 22 Maret 2021 telah terjadi sebuah peristiwa yang sangat tragis. Seorang ibu guru paruh baya dibacok oleh seorang laki-laki yang notabene adalah tetangganya sendiri. Berawal dari masalah sepele hingga berbuntut panjang yang dimulai dengan adu mulut hingga berakhir dengan tindakan penyerangan atau pembacokan tersebut.

Kabar tersebut dimuat pada laman berita Kaimana News (25 Maret 2021). Korban hingga hari ini masih tetap dirawat di RSUD Kab Kaimana dalam kondisi kritis, sedangkan pelaku hungga tulisan ini rampung belum juga ditemukan.

Sungguh sangat disayangkan sekali, dengan adanya kasus tersebut memberikan sebuah gambaran nyata lain bahwa dimanapun perempuan berada ternyata keselamatan dan keamaan mereka masih sangat rentan, bagaimana tidak tindakan tidak beradab tersebut justru terjadi di dalam rumah korban. Ini menunjukkan bahwa rumah yang seharusnya mempunyai fungsi sebagai tempat perlindungan pun tidak lagi dikatakan sebagai tempat yang aman. Ibarat kata dimanapun perempuan berada sungguh nasibnya bagai berada di ujung tanduk.  Dan peristiwa semisal terus dan terus terjadi bak roll film yang diputar per episode per detiknya setiap harinya.

Baca Juga:  POLEMIK TES WAWASAN KEBANGSAAN ANTARA KORUPSI DAN RADIKAL

Untuk itu perlu adanya semacam control yang dilakukan oleh berbagai pihak yang berada di tengah masyarat. Dimulai dengan adanya kepedulian sesama, jika melihat adanya tindak kekerasan yang terjadi agar tidak segan-segan untuk segera melaporkannya, jangan beranggapan bahwa “ah itu kan persoalan dalam rumah tangga mereka, itu bukan urusan saya!” Sehinnga diharapkan setiap iindividu yang hidup di tengah masyarakat mempunyai awareness, tidak hidup secara individual semata.

Kemudian yang berikut adalah adanya control di tengah masyarakat, melalui pihak- pihak terkait semisal ketua RT atau tetua adat atau tokoh agama, sehingga ketertiban dalam masyarakat tetap terjaga. Jika melihat adanya kekersan yang dilakukan baik itu oleh orang terdekat koban terlebih orang asing, agar tidak segan untuk speak up atau segera melaporkannya kepada pihak yang berwajib.

Yang terakir adalah peran negara yang dalam hal ini adalah pemerintah, agar menjatuhkan hukuman yang seberat – beratnya kepada pelaku kekerasan tersebut, melalui hukuman yang berat serta dapat memberikan efek jera, sehingga diharapkan tidak akan terjadi lagi kasus-kasus semisal di kemudian hari.

Kaimana, 25 Maret 2021

(Penulis merupakan praktisi kesehatan dan pemerhati perempuan)


Bagikan Artikel ini:

Check Also

POLEMIK TES WAWASAN KEBANGSAAN ANTARA KORUPSI DAN RADIKAL

Bagikan Artikel ini: Oleh : Rahmiani. Tiflen, Skep (Praktisi Kesehatan, Pegiat Literasi, dan Penulis Buku) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *