Home / Opini / POLEMIK TES WAWASAN KEBANGSAAN ANTARA KORUPSI DAN RADIKAL

POLEMIK TES WAWASAN KEBANGSAAN ANTARA KORUPSI DAN RADIKAL

Bagikan Artikel ini:

Oleh : Rahmiani. Tiflen, Skep

(Praktisi Kesehatan, Pegiat Literasi, dan Penulis Buku)

Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia. Bahkan tak tanggung-tanggung jumlahnya berkisar antara 200 juta jiwa. Data pendukung yang dirilis tercatat jumlah populasi Muslim di Indonesia saat ini sebanyak 219.960.000 jiwa atau 12,6 persen dari populasi Muslim di seluruh dunia. Sementara diperkirakan, pada 2060 Indonesia akan mengalami peningkatan atau bonus demografi sehingga jumlah penduduk muslim akan meningkat menjadi 253.450.000 jiwa. (republika.co.id, 27/01/21)

Setidaknya dengan jumlah sebanyak ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang bermartabat, menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan serta memiliki moral yang baik. Seperti tertuang pada sila pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Akan tetapi sungguh ironi sekali jika melihat kenyataan yang terjadi saat ini. Justru negara yang katanya berKetuhanan yang Maha Esalah yang sedang mempermainkan hukum-hukum Tuhan Sang Pencipta manusia.

Disamping itu Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah korupsi terbesar ketiga se-Asia. Melalui Lembaga pemantau indeks korupsi global, Transparency International, merilis sebuah laporan bertajuk “Global Corruption Barometer-Asia” menyatakan sebuah fakta yang cukup mencengangkan yaitu Indonesia termasuk dalam urutan ketiga dari prestasi sebagai negara terkorup seAsia. Hal ini disebabkan karena lemahnya hukum di negara kita, selain itu pula aturan yang dibuat sering kali mengalami perubahan serta partai politik di negara kita menjalankan sistemnya dengan ‘mahar politik’. Negara kemudian memberikan keleluasaan kepada para koruptor untuk mencalonkan diri dalam pemilihan dari tingkat kepala daerah hingga presiden. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Peneliti Political and Public Policy Studies Jerry Massie. (merdeka.com, 30/11/20).

Dengan track record tidak membanggakan ini seharusnya menjadi catatan tersendiri bagi para petinggi negara. Akan tetapi negara Indonesia tercinta lagi-lagi melakukan suatu tindakan yang jika tidak ingin dikatakan sebagai sesuatu yang sangat memalukan maka boleh jadi disebut sebagai aksi yang sangat kontroversi sekali di kalangan masyarakat.

Baca Juga:  Pemuda dan Kontribusinya Bagi Kemajuan Daerah

Terbukti pada peristiwa yang terjadi baru-baru lalu. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) menyelenggarakan tes wawasan kebangsaan (TWK) yang diselenggarakan pada Senin (17/05/21), akan tetapi menuai kontroversi. Hal tersebut ditandai dengan beberapa butir soal yang menjadi pertanyaan dalam TWK diantaranya adalah pertanyaan tentang lepas jilbab, doa qunut dan sikap terhadap LGBT. Padahal pertanyaan-pertanyaan tersebut sama sekali tidak memiliki korelasi dengan TWK dimaksud. Kegiatan tersebut kemudian dikritik oleh aktivis dan akademisi yaitu dari Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi Fakultas Hukum UGM Zaenur Rohman. Beliau menilai bahwa Tes Wawasan Kebangsaan KPK seharusnya tidak dilakukan. Menurutnya tes tersebut baru muncul saat KPK dipimpin oleh Firli Bahuri. Ia pun meminta kepada KPK dan pemerintah yang dalam hal ini ada Badan Kepegawaian Negara agar dapat menjelaskan kepada publik terkait polemik pertanyaan tersebut diatas sehingga tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Hal senada disampaikan pula oleh Akademisi Hukum UGM Oce Madril, beliau pun beranggapan bahwa TWK KPK sama sekali tidak relevan dengan kompetensi jabatan yang diemban oleh staf KPK. (kompas.com, 8/5/21)

Sementara itu pada kesempatan lain mantan ketua KPK Abraham Samad pun turut memberikan statemen terkait TWK dimaksud. Menurutnya, ada skenario yang sengaja dimainkan guna menyingkirkan 75 pegawai senior KPK. “Saya tidak bisa membayangkan kalau mereka semua ini disingkirkan, apakah masih ada OTT sekelas menteri,” ujarnya saat berbicara di diskusi Polemik Trijaya “Dramaturgi KPK”. Masih menurut Abraham, ke75 pegawai KPK tersebut memiliki integritas yang tinggi dalam pemberantasan korupsi, mereka adalah orang-orang yang tegak lurus serta tetap menjaga kehormatan KPK, mereka pun adalah orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada prinsip, tak kenal kompromi dalam menegakkan pemberantasan korupsi. Orang-orang yang masih diharapkan berada di dalam tubuh KPK guna menjaga maruah dan kehormatannya. Maka besar dugaannya bahwa dalam hal ini ada sebuah skenario yang dimainkan. Tribunnews.com (8/5/2021).

Baca Juga:  Anak Muda dan Arah Gerakan Politiknya

Dari sini ada sebuah pengalihan cara pandang yang ingin dimainkan. Bagaimana tidak jika dalam TWK dikaitkan dengan pemahaman tentang radikalisme? Sejak kapan orang yang justru berpegang teguh pada agamanya lantas berubah menjadi seorang penjahat koruptor dan juga mafia kerah putih? Bukannya malah sebaliknya?

Untuk itu hendaklah kita kembali menata ulang pemahaman. Seraya menggali apa akar permasalahan yang terjadi sehingga persoalan korupsi ini terus berlangsung secara sistemik sepanjang sejarah perkembangan negara Indonesia. Semua itu tentu saja diakibatkan oleh jauhnya tiap-tiap individu dari pada aturan Sang Pencipta. Justru perilaku korupsi terjadi diakibatkan karena kurangnya pemahaman seseorang terhadap agamanya. Sehingga di dalam bertindak ia lebih mengedepankan hawa nafsu serta tidak mengindahkan hukum-hukum Tuhan. Seseorang yang tidak memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi akan mudah sekali melakukan tindakan korupsi. Merasa bahwa ia bebas melakukan apa saja dan Tuhan tidak melihat itu. Dia pun tidak meyakini bahwa kelak segala amal perbuatannya akan dipertanggungjawabkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selain itu pula sistem yang diterapkan dalam negara pun turut andil dalam upaya pemberantasan korupsi. Jika saja sistem negara dikembalikan kepada aturan Ilahi, dengan menekankan pada norma-norma keagamaan maka sudah barang tentu para pelaku akan dibuat jera sebab hukum yang ditetapkan dapat menimbulkan efek jera bagi pelakunya. Oleh sebab itu, masihkah percaya pada Tes Wawasan Kebangsaan yang cenderung tendensius itu?


Bagikan Artikel ini:

Check Also

NASIB GENERASI Z DITENGAH ARUS PERKEMBANGAN ZAMAN

Bagikan Artikel ini: Oleh : Rahmiani. Tiflen, Skep (Pegiat Literasi dan Praktisi Kesehatan) Anak adalah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *