
KAIMANANEWS.COM – Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kaimana bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Papua Barat menggelar kegiatan implementasi pendidikan kependudukan jalur informal pada kelompok masyarakat binaan di Kaimana, Rabu (12/11/2025).
Dalam kegiatan yang dibuka Plt. Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kaimana, Markus Tanggarofa, S.Sos serta dihadiri langsung Kepala Perwakilan BKKBN Papua Barat, Philimona Maria Yarollu, S.Sos., M.Si ini, dibentuk pula Forum Pemuda Peduli Kependudukan.
Kepala Perwakilan BKKBN Papua Barat, Philimona Maria Yarollu menjelaskan, tujuan dari kegiatan adalah untuk membentuk kesadaran tentang dinamika penduduk dan dampak terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan.
Kegiatan ini lanjutnya, melibatkan unsur komunitas mengingat kegiatan ini merupakan kegiatan jalur informal. “Jadi pendidikan kependudukan itu ada jalur formal yang biasanya kita bentuk sekolah siaga kependudukan di sekolah-sekolah baik sekolah dasar, menengah sampai tingkat atas. Kemudian jalur informal yaitu jalur komunitas atau jalur kelompok masyarakat yang saat ini kita lakukan,” ungkapnya.
Ia berharap forum pemuda peduli kependudukan yang baru terbentuk ini, bisa mengedukasi masyarakat tentang bagaimana isu kependudukan itu sendiri mulai dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan.
“Seperti yang disampaikan bahwa disini angka putus sekolah tinggi, angka pergaulan bebas tinggi, angka kehamilan diluar nikah pun tinggi, maka harapan saya dengan terbentuknya forum pemuda peduli kependudukan ini ada dampak positifnya, artinya mereka bisa mengedukasi masyarakat tentang bagaimana isu kependudukan ini dari aspek sosial, budaya ekonomi dan lingkungan,” ujarnya.
Pendidikan kependudukan jalur informal ini juga bertujuan mempersiapkan generasi muda yang mapan baik dari aspek pendidikan, ekonomi maupun lingkungan.
“Bagaimana mempersiapkan generasi muda ini supaya memiliki kehidupan yang mapan. Ketika dia memiliki kehidupan yang mapan dari aspek pendidikan dan ekonomi maka bisa menekan terjadinya perkawinan dini, mencegah anak-anak lahir dengan kurang gizi atau stunting dan lainnya. Yang diharapkan adalah ketika memutuskan menikah itu usianya sudah mapan dan secara ekonomi sudah siap,” pungkasnya. |isw|
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik