
KAIMANA- Kasus frambusia atau infeksi bakteri jangka panjang (kronis) yang paling sering mengenai kulit, tulang, dan sendi di wilayah Provinsi Papua Barat masih tinggi.
Demikian disampaikan Pengelola Program Kusta-Frambusia Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Owira Indouw.
Di Kabupaten Kaimana terang dia, pada tahun 2019-2020, ada 3 puskesmas dengan 12 kampung didalamnya yang menjadi wilayah endemis frambusia atau penyakit yang muncul dan menjadi karakteristik di wilayah tertentu.
Wilayah endemis dimaksud adalah 3 kampung di Puskesmas Kaimana yakni Coa, Kaimana Kota dan Foroma Jaya dengan jumlah kasus pada tahun 2019-2020 sebanyak 27.
Empat (4) kampung di Puskesmas Tairi yakni Tairi, Hia, Makaira dan Gurisa dengan jumlah kasus 46, serta 5 kampung di wilayah Puskesmas Yamor yakni Urubika, Ururu, Paparo, Etahima dan Muri dengan jumlah kasus 23.
Sehingga total kasus frambusia pada dua tahun terakhir di Kabupaten Kaimana adalah sebanyak 105 kasus. “Oleh karena itu orientasi P2 Kusta sangat penting dilaksanakan di kabupaten/kota dalam rangka mencapai target eliminasi kusta dan eradikasi frambusia tahun 2024,” ujar Indouw.
Kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kaimana, Oldri Lahamini, mengakui, masih ada sejumlah Puskesmas di Kabupaten Kaimana yang tidak aktif memberikan laporan perkembangan kasus, baik kasus frambusia maupun kusta.
“Ada beberapa puskesmas yang tidak memberikan laporan perkembangan kasus. Kami minta kerjasamanya agar kedepan pelaporannya lebih ditingkatkan,” ujarnya ketika membuka kegiatan orientasi pencegahan dan pengendalian (P2) kusta-frambusia, Kamis (23/9/2021). |RED|KN1|

KAIMANA NEWS Media Informasi Publik