
BELAJAR di rumah untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 yang diputuskan pemerintah sangat berdampak pada tidak maksimalnya transfer pengetahuan dari guru kepada murid.
Di kota, guru masih bisa memilih beberapa cara untuk mentransferkan ilmu kepada anak didik, salah satunya melalui sistim online atau daring (dengan jaringan).
Tetapi tidak demikian dengan guru atau sekolah yang ada di kampung-kampung. Karena tidak ada pilihan lain, guru dan siswa terpaksa hanya menjalankan sistim belajar Luring (luar jaringan).
Metode ini menuntut guru untuk harus berlayar atau berjalan kaki bertemu siswa agar bisa memberikan asupan pengetahuan ditengah gempuran Covid-19.
Meski berat, hal ini tetap dijalani para guru SMP Negeri 4 Kaimana. Sekolah ini, sejak Bulan Agustus lalu, mulai melaksanakan program belajar Luring.

Kepala SMPN 4, Bartjelina A.S. Ojanggai, S.Pd membenarkan hal ini. Kepada KaimanaNews.Com, Kamis (15/10/2020), ia mengatakan, mulai melaksanakan program belajar luring sejak bulan Agustus.
Untuk memaksimalkan penerapannya, pihak sekolah membagi siswa dalam dua kelompok belajar yakni kelompok kota dan Teluk Bicari. Kelompok belajar kota merupakan gabungan dari anak-anak yang menetap di kota, Tanggaromi, Lobo dan Jarati.
Sedangkan kelompok belajar Teluk Bicari lanjut guru kreatif ini, merupakan gabungan anak-anak dari Kampung Maimai, Nanggaromi, Murano, Sisir 2 dan Marsi.
“Pembelajaran di kota dijadwalkan dua minggu sekali setiap hari Rabu, sementara wilayah Teluk Bicari juga dua minggu sekali tetapi setiap hari Sabtu. Anak-anak semua kumpul untuk ambil tugas dan bertanya tentang hal-hal yang kurang dimengerti,” terang Bartjelina.

Disinggung tentang kesulitan yang dihadapi dalam menerapkan metode pembelajaran Luring ini, Bartjelina akui, kendala utama yang dihadapi adalah kesulitan membangun komunikasi dan keterbatasan anggaran Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk perjalanan ke kampung-kampung.
“Media yang kami gunakan hanya facebook, ini pun hanya bisa dijangkau anak-anak yang sering ke kota. Selain itu, ada juga Wa daring SMPN 4 khusus bagi siswa yang memiliki dawai. Biasanya ada jadwal yang memang sudah kami siapkan untuk siswa dan orangtua, ketika kami berkunjung langsung menyampaikan jadwal pertemuan berikutnya. Kesulitan lain adalah BBM. Kita terpaksa meminimalisir kebutuhan perjalanan ke kampung-kampung disesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang terbatas,” ungkapnya. |AWI|KN1|

KAIMANA NEWS Media Informasi Publik