
KAIMANA- Wakil Bupati Kaimana, Ismail Sirfefa, S.Sos,MH saat membuka seminar bertajuk penanggulangan dampak buruk minuman keras yang digelar Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kaimana, meminta masyarakat, untuk benar-benar konsisten mencegah dan menghentikan peredaran minuman keras di Kabupaten Kaimana.
“Karena ketika ada sesuatu yang terkait miras itu, nama pemerintah yang selalu muncul dimuka. Padahal ini menjadi tanggungjawab kolektif secara moral dari semua elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Kaimana. Selain pemerintah, ada gereja, masjid, dewan adat, dan seluruh organisasi kemasyarakatan termasuk sekolah,” tegas Wabup, Rabu (7/11/2018).
Dihadapan perwakilan tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, para Ketua RT, guru dan pelajar serta pemuda gereja dan remaja masjid se-Kota Kaimana, Wabup ingatkan, dalam konteks budaya, sebenarnya tidak ada budaya minuman keras di Tanah Papua.
Tetapi yang terjadi di Kabupaten Kaimana lanjutnya, justru berbeda. Pengkonsumsi miras bukan lagi hanya kalangan dewasa, tetapi merambah hingga anak-anak. Bahkan belakangan, ada cara baru yang dilakukan anak-anak untuk menikmati alcohol, selain aibon dan miras yang beredar, yakni menggunakan kelapa yang dibenamkan dalam tanah.
“Sekarang ini anak-anak pintar banyak, pakai buah kelapa tanam di pasir, nanti 2-3 hari baru ambil dan minum airnya yang katanya sama macam minum sageru. Ini luar biasa sekali, banyak temuan-temuan baru yang muncul. Ini adalah kelebihan anak-anak Kaimana. Tapi timbul pertanyaan, itu anak-anak siapa?,” ujar Wabup.
Ia berharap, melalui momentum seminar penanggulangan dampak buruk minuman keras, dengan tema ‘minuman keras mengancam masa depan generasi muda’ ini, pemangku peran bisa membuat sebuah terobosan untuk bagaimana mengajak generasi muda Kaimana menciptakan hal positif dalam hidup, dengan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol jenis apapun. |KN10|IWI|
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik