


AKIBAT tidak adanya aktivitas belajar mengajar selama Pandemi Covid-19, SD Negeri 3 Kaimana di Jalan DPRD, Kelurahan Krooy berubah menjadi lokasi pesta minuman keras (Miras) siang maupun malam hari.
Letaknya yang agak tersembunyi dari pandangan warga, membuat sekolah yang mulai beroperasi pada Tahun 2014 ini sangat strategis sebagai tempat berkumpul para penikmat Miras, bahkan sebagai tempat mesum.
Kepala SD Negeri 3 Kaimana, Germanus Yeuyanan, S.Pd menyayangkan persoalan ini. Ia mengaku kaget ketika beberapa kali ke sekolah, menemukan botol dan kaleng bekas minuman keras yang menumpuk di halaman dan lantai gedung sekolah.
Kondisi ini lanjut Gerry biasa disapa, kemungkinan disebabkan sekolah yang dipimpinnya tidak memiliki pagar, sehingga orang bebas keluar masuk dan memanfaatkan bangunan sekolah untuk pesta miras, didukung pula letaknya yang tersembunyi.
“Ini karena tidak ada pagar makanya selama masa pandemi Covid ini sekolah kami menjadi salah satu sasaran untuk dijadikan tempat pesta miras oleh orang-orang sekitar,” ujar Gerry yang mengaku memimpin sekolah ini hanya dengan nota tugas bukan SK, Jumat (14/8/2020).
Dijelaskan pula, selain sebagai ajang pesta miras, beberapa ruang kelas juga dibobol dan fasilitasnya dirusaki. Diduga ruang kelas yang dibobol dijadikan tempat berpacaran bahkan bermesum para remaja karena seringkali ditemukan kondom bekas di halaman dan ruang kelas.

“Ada beberapa ruang kelas, termasuk kantor dibobol dan fasilitasnya dirusaki. Seperti kaca jendela yang dipecahkan, bahkan lampu-lampu sekolah juga dicuri. Kami juga beberapa kali temukan kondom yang berserakan di lantai dan halaman sekolah,” ungkap Gerry.
Ia mengakui, pihaknya kesulitan menghadapi persoalan ini. Pasalnya, beberapa fasilitas yang sudah diganti, kembali dirusaki dan dicuri, sementara dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimiliki sangat terbatas.
“Setiap kali kami harus menggantikan fasilitas sekolah yang dirusaki, padahal dana BOS kami sangat sedikit. Sudah begitu, usulan kami ke Dinas juga sangat lambat direspon, dibanding dengan SD Negeri 4 yang dibangun pada tahun yang sama,” ujarnya sedih.
Ia berharap, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) memberikan perhatian terhadap persoalan ini. SD Negeri III lanjutnya, merupakan satu-satunya sekolah yang berada di kota Kaimana yang belum memiliki pagar sekolah dan minim perhatian Dinas PPO.
“Kami berharap Dinas Pendidikan bisa menjawab kebutuhan kami akan pagar sekolah. Sudah beberapa kali kami usulkan namun hingga saat ini, tidak pernah direspon. Kami mohon agar sekolah kami juga diperhatikan karena banyak anak-anak asli Papua yang kami didik disini,” tutupnya. |DAR|AWI|

















KAIMANA NEWS Media Informasi Publik