
KAIMANANEWS.COM – Semangat untuk terus belajar dan mengembangkan usaha pertanian tidak pernah mengenal batas usia. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Marce Taboka, perempuan asli Papua Kaimana berusia 57 tahun, yang kini mulai belajar mandiri mengelola kebun sendiri.
Ibu empat anak ini, selama belasan tahun bahkan hingga saat ini, merupakan bagian dari Kelompok Tani Basudara, yang menjalankan usaha pertanian di wilayah Kampung Trikora, Kabupaten Kaimana, Papua Barat.
Dari kebersamaan mengembangkan usaha pertanian tersebut, ia mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang cara mengelola lahan serta mengembangkan berbagai jenis tanaman, seperti sayur-sayuran yang saat ini sedang ia geluti.
Dan berbekal pengalaman tersebut, kini Ibu Marce mulai berusaha belajar secara mandiri dengan mengelola kebun miliknya sendiri, di Jalan Belakang Kampung Trikora. Langkah ini menjadi salah satu bentuk semangat dan tekadnya untuk terus produktif, sekaligus berupaya membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Saya masih bagian dari Kelompok Tani Basudara. Disini saya coba-coba memanfaatkan tanah yang ada ini tanam sayur. Jadi sambil berkebun disini, sata juga berkebun bersama kelompok tani Basudara,” ungkapnya saat ditemui Kaimana News.Com belum lama ini.
Namun, dalam menjalankan kegiatan berkebun, baik di kelompok tani Basudara maupun secara mandiri, Ibu Marce mengaku, ia dan rekan-rekannya masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan bibit tanaman, peralatan pertanian, serta pupuk, menjadi tantangan utama yang selalu dihadapi dalam mengembangkan kebunnya.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak membuatnya patah semangat. Ia tetap memiliki keinginan kuat untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan tanaman kebun agar ke depan dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Ibu Marce berharap agar Pemerintah Kabupaten Kaimana atau Pemerintah Provinsi Papua Barat, melalui instansi terkait, dapat memberikan perhatian dan dukungan nyata kepada para petani asli Papua, termasuk dirinya.
“Bantuan yang sangat kami harapkan itu berupa bibit tanaman, peralatan pertanian, serta pupuk. Kalau dibantu secara pribadi mungkin tidak bisa, tapi kami ada dalam Kelompok Tani Basudara, kalau ada alat kami pakai bersama. Kami juga butuh pendampingan dari petugas penyuluh lapangan,” ujarnya.
Baginya, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan berupa sarana produksi, tetapi juga menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi pertanian secara mandiri.
Kisah Marce Taboka menjadi gambaran bahwa semangat untuk belajar, bekerja, dan mandiri tidak mengenal usia. Dengan pengalaman, kemauan, serta dukungan pemerintah, diharapkan semakin banyak perempuan asli Papua yang mampu mengembangkan potensi pertanian dan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui sektor perkebunan. |isw|
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik