
KAIMANANEWS.COM – Banyak yang ragu akan kemampuan orang asli Papua menggeluti pekerjaan mengolah tanaman secara profesional di kebun. Bahkan ada pula yang kurang yakin orang Papua mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan dibutuhkan pasar.
Namun kelompok tani yang satu ini sukses menepis anggapan tersebut. Namanya Kelompok Tani Basudara, group tani beranggotakan perempuan-perempuan Papua hebat ini, setelah belajar dan menggeluti pekerjaan bertani selama belasan tahun, telah berkali-kali membawa hasil produksinya ke pasar.
Dan kini mereka juga mampu membuktikan bahwa, selain memproduksi sayur mayur yang familiar dengan kebutuhan konsumen di Kaimana, mereka juga mampu menghasilkan produk pertanian yang selama ini langka di Kaimana dan banyak didatangkan dari luar.
Ditemui disela panen buah tomat di lokasi garapannya Kampung Trikora, Rabu (28/10/2026), Ketua Kelompok Tani Basudara, Magdalena Sunday bersama kedua rekannya, Dorce Taboka dan Oktovina Nabaema mengatakan, motivasi mereka mengelola tanaman pertanian secara professional timbul setelah melihat orang lain bisa melakukannya.

“Kalau orang lain bisa, kita juga pasti bisa yang penting mau belajar.” Berangkat dari kemauan yang kuat ini lah, mereka pun pada Tahun 2015 membentuk kelompok tani yang diberi nama Basudara. Awal terbentuk berjumlah 12 orang anggota dan kini tersisa 7 anggota.
Sejak saat itu, meski menumpang di tanah milik orang, mereka belajar mengolah lahan pertanian secara professional, dimulai dari menanam sayur yang biasa dikonsumsi masyarakat Kaimana, seperti bayam, kangkung, sawi dan beberapa lainnya.
Mereka juga mencoba menanam dan merawat tanaman tomat meski dalam skala kecil karena belum memahami pengetahuan yang cukup untuk merawat tanaman tomat. Semakin kesini, mereka bahkan pernah dan mampu merawat tanaman bawang merah hingga memproduksinya.
Sepanjang perjalanan 13 tahun lamanya, mereka sempat mendapat bantuan bibit dan peralatan tani dari Dinas Pertanian Kabupaten Kaimana. Mereka juga mengaku sempat diberikan bantuan pupuk, namun sayang mereka pernah membuang atau menelantarkan pupuk dalam jumlah besar akibat tidak adanya petugas penyuluh.

“Sempat dapat bibit sayur, dapat peralatan juga dari Dinas Pertanian, tapi sekarang alatnya sudah rusak. Pernah juga kami dapat pupuk yang jumlahnya banyak, tapi kami lepas begitu saja, karena tidak tahu cara pakainya. Kami butuh pendampingan, butuh diajarkan bagaimana cara mencampur pupuk ke tanaman, berapa takarannya. Petugas hanya datang antar lalu pergi, terus kami mau bikin pupuk itu bagaimana,” cerita ketiganya.
Saat ini, mereka sedang memanen buat tomat diatas lahan yang jauh lebih luas dari sebelumnya. Tomat yang dihasilkan pun memiliki kualitas buah yang tidak kalah saing dengan tomat-tomat yang didatangkan dari luar Kaimana.
“Untuk tomat dan bawang merah kami dapat dukungan dari Panah Merah. Mereka datang jual bibit sekalian ajari kami cara tanam, makanya tomat hasilnya seperti yang terlihat hari ini. Kemarin bawang juga hasilnya bagus, ini mau tanam lagi tapi masih kemarau. Untuk tomat, sekarang ini baru lumayan luas, dulu kami hanya tanam satu dua pohon saja karena belum tau betul cara merawatnya,” ungkapnya.
Mereka berkomitmen untuk menjadi petani professional, dengan harapan mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian. Dukungan yang diharapkan adalah berupa bantuan peralatan dan bibit, dukungan tenaga penyuluh untuk mengajarkan mereka cara merawat tanaman, serta berharap Pemerintah Daerah menyediakan lahan pertanian untuk mereka kelola sehingga tidak lagi menumpang tanam di tanah milik orang. |isw|
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik