
KAIMANANEWS.COM – Umat Katolik Paroki Santo Martinus Kaimana, Kamis (2/4/2026) malam memadati gereja, mengikuti misa Kamis Putih, mengenang peristiwa Yesus membasuh kaki para rasul dan perjamuan malam terakhirNya bersama para rasul.
Misa yang dimulai Pukul 19.00 WIT ini dipimpin pastor asistensi yang juga merupakan Pimpinan Ordo Karmel Provinsial Indonesia Timur (Provit, red), Romo Marselinus Barus, O.Carm.
Dalam misa ini, Pastor Marselinus melakukan pembasuhan kaki dua belas perwakilan umat dari setiap lingkungan dalam Paroki Santo Martinus, sama seperti yang dilakukan Yesus kepada 12 muridnya ribuan tahun silam.
Pastor Marselinus dalam khotbahnya mengajak umat Katolik Kaimana untuk belajar menjadi orang yang rendah hati, seperti yang dilakukan Yesus pada saat membasuh kaki kedua belas rasulnya.
“Hari ini kita mendengar Injil Tuhan menyampaikan kepada kita bahwa Yesus mencuci kaki para murid. Mencuci kaki itu tanda kerendahan hati. Berani kah kita seperti itu? Rendah hati seperti Yesus, ia berbuat seperti seorang hamba yang hanya tahu mengatakan ya tuan, dia tidak mungkin mengatakan tidak,” ujar Pastor Marsel.
Dikatakan, mengapa Yesus memilih mencuci kaki, karena kaki adalah bagian tubuh yang bersentuhan langsung dengan tanah dan kotoran-kotoran. Mencuci bagian tubuh yang paling adalah tanda kerendahan hati.
“Mengapa Yesus memilih mencuci kaki, bukan cuci muka, cuci tangan atau lainnya, karena kaki adalah bagian tubuh yang langsung bersentuhan dengan tanah dan bersentuhan dengan kotoran-kotoran. Sehingga bagian yang paling kotor ini perlu dibersihkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kaki bukan saja kotor karena debu, tapi bisa juga kotor karena tendang istri, tendang suami, tendang anak, tendang orang,” ujarnya mengumpamakan.
Lebih jauh Pastor asal Manggarai, Flores, NTT ini mengatakan bahwa, menjadi orang yang rendah hati memang tidak gampang, butuh waktu bertahun-tahun bahkan juga butuh pengorbanan lebih.
“Belajar menjadi orang yang rendah hati itu butuh waktu bertahun-tahun. Kami para pastor sampai 10 tahun baru tahbis, itu pun belum tentu juga menjadi pastor yang rendah hati. Tapi meski sulit, mari kita terus menerus belajar untuk menjadi orang yang rendah hati,” pungkasnya.
Misa Kamis Putih ini sendiri ditutup dengan perarakan pemindahan Sakramen Maha Kudus ke altar takhta untuk disembah (Tuguran), mengenang perjamuan malam terakhir Yesus bersama para murid. |isw|






KAIMANA NEWS Media Informasi Publik