Home / Opini / PEMUDA dan TANTANGAN MASA DEPAN

PEMUDA dan TANTANGAN MASA DEPAN

Bagikan Artikel ini:

Oleh: PIUS SIN MAIRUMA

ERA baru telah dimulai, digitalisasi yang merupakan anak kandung teknologi berusaha memasuki setiap sendi-sendi kehidupan. peradaban umat manusia di era ini hampir tidak ada sekat yang membatasi, interaksi dan mobilisasi pun semakin fleksibel.

Dilain sisi membludaknya jumlah penduduk mengakibatkan suatu kondisi yang tidak bisa dicegah, positifnya dari peledakan jumlah penduduk ini berhasil menciptakan bonus demografi yang mana usia produktif (pemuda) lebih banyak dibandingkan usia rentan.

Daniel Bell dalam bukunya The coming of post-industrial society ramalannya menyebutkan “jika modal dan tenaga kerja adalah ciri utama masyarakat industri, maka ciri masyarakat pasca-industri adalah informasi dan pengetahuan” (1973) bahwa saat era digital dimulai, era ini tak akan lagi melirik modal dan tenaga sebagai primadona kemajuan tetapi yang akan disanjung adalah informasi dan pengetahuan kemudian yang mengendalikan keduanya adalah yang akan mengontrol dunia. Bahkan ketika ramalan Bell dipublis para ideolog marxis yang tenar dengan kekokohan prinsipnya merasa sangat khawatir akan era ini.

Tentu hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri, ditengah era-digital ini ruang persaingan bebas terbuka dan yang menjadi pertanyaannya ialah bagaimana kesiapan pemuda sebagai kelompok usia produktif dalam menjawab tantangan-tantangan yang terjadi dimasa depan? dalam konteks ini, peran pemuda sangatlah penting sebagai gimmick perubahan dan pemain inti kemajuan peradaban. Jauh diera sebelumnya pun pemuda adalah kunci dari gerakan-gerakan perubahan, ini telah menjadi rahasia umum dan sudah seharusnya pemuda kembali berperan aktif dalam status qou-nya sehingga kemajuan peradaban dan tantangan masa depan dapat terjawab.

Baca Juga:  NASIB GENERASI Z DITENGAH ARUS PERKEMBANGAN ZAMAN

Russel dalam pandangan kelas sosial misalnya, mengklasifikasikan pemuda berada pada kelas hego. maksudnya adalah ada kelas sosial baru yang diisi oleh kaum muda yang bercirikan berjiwa borjuistik tetapi memiliki semangat bak proletar, artinya bahwa ada pemuda yang memiliki kompetensi dan life skill tetapi dipergunakan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri (egoisme-disipliner).

Tahun-tahun sebelumnya wacana masyarakat ekonomi asean (MEA) yang naik ke permukaan publik dan menjadi pembahasan hangat cukup meresahkan, bagaimana tidak jika wacana tersebut terealisasi maka keterbukaan ruang yang  mengharuskan adanya persaingan sumber daya manusia antar sesama warga negara dan warga negara asing akan semakin sengit. Selanjutnya mengenai revolusi industri 4.0 yang sudah berlangsung pun menjadi semacam tuntutan zaman yang mana perubahan pada berbagai macam bidang kehidupan terjadi secara signifikan dan linear.

Ditengah pergolakan zaman sebagai tantangan masa kini dan masa depan, status sebagai agen of social control dan social enginering berada pada pemuda sehingga kemajuan peradaban berada pada tangan pemuda salah satunya, disisi lain kompetensi berbasis pengetahuan selain dari pada itu persatuan dan kesatuan pemuda harus terwujudkan dalam satu nafas gerakan.

Jika pemuda satu nafas dalam bergerak dan persatuan dimanfaatkan sebagai kekuatan maka yakin sungguh perubahan dalam tatanan masyarakat dapat terjadi, benar adanya dengan sifat masyarakat yang heterogen (beragam) cukup sukar untuk terhindar dari berbagai macam benturan akan tetapi keberagaman masyarakat dengan berbagai corak semestinya menjadi keunggulan tersendiri.

Baca Juga:  KAIMANA DAN SEBUAH HARAPAN

Ibarat hujan badai yang berlalu akan muncul pelangi indah dengan perpaduan berbagai macam warna, hal inilah yang harus diwujudkan oleh pemuda hari ini bahwa setelah berbagai macam tantangan akibat konflik, akulturasi, pengaruh luar, teknologi dan sebagainya itu tidak menutup ruang gerak pemuda untuk berkolaborasi dalam satu nafas menuju perubahan dan lebih baik lagi.

Sejatinya jiwa muda adalah jiwa petarung dan semangat muda adalah semangat juang, sehingga pemuda adalah petarung dan pejuang yang pantang menyerah. Dalam ritme perjuangan menuju ke arah yang lebih baik dibutuhkan komitmen, sinergitas, soliditas, serta sosialita. Apabila semua telah terpenuhi maka tinggal diasah dan diarahkan mau kemana gerakan pemuda ini, mau ditata seperti apa keberlanjutan kehidupan dikemudian hari, dan yang paling terpenting adalah apa yang harus diwariskan generasi pemuda hari ini untuk generasi pemuda dikemudian hari.

Inilah yang menjadi tanggung jawab kemanusiaan kita bersama sebagai pemuda dan sebagai generasi penerus bangsa, selebihnya kita terlahir ke bumi pertiwi sebagai petarung dan pejuang untuk melanjutkan perjuangan-perjuangan leluhur sebelumnya.

Penulis adalah Ketua Organisasi Pemuda Noken Kabupaten Kaimana


Bagikan Artikel ini:

Check Also

Pemilu Serentak 2024 dan Peran Lembaga Pengawas

Bagikan Artikel ini: Oleh : Klara Isabela Wisang PEMILIHAN Umum atau yang disingkat Pemilu merupakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *