
KAIMANA- Kepala SD YPK Namatota, Abdul Rahman Labubun, S.Pd menerangkan, saat ini sekolah yang dipimpinnya hanya memiliki 2 orang guru berstatus PNS. Sementara beberapa guru kontrak yang selama ini membantu pihaknya, memutuskan tinggal di kota akibat SK Bupati terkait perpanjangan kontrak belum juga terbit.
Abdul menyampaikan ini saat hadir dalam Rapat Koordinasi Bidang Pemerintahan, Pemberdayaan Masyarakat, Pendidikan dan Kesehatan, serta Mini Lokakarya Lintas Sektor Puskesmas Kaimana yang diselenggarakan Pemerintah Distrik Kaimana, Jumat pekan lalu.
Dikatakan, 115 siswa-siswi yang sekolah di SD YPK Namatota saat ini, hanya diajari oleh 2 orang guru berstatus PNS. Sementara guru kontrak yang selama ini membantu kegiatan belajar mengajar, memutuskan kembali ke kota karena sudah hampir satu tahun, SK perpanjangan kontrak kerja belum kunjung terbit.
“Kami PNS ada 2 orang, tapi satunya sekarang pemerintah daerah pakai tenaga untuk olahraga ke luar daerah. Sekarang saya sendiri yang mengajar. Ada guru kontrak tapi karena sudah mau satu tahun ini SK kelanjutannya tidak ada, akhirnya mereka semua di kota. Saya mau sampaikan saat ini kami butuh guru,” tukas Abdul disela diskusi materi.
Ia juga menegaskan, dengan jumlah guru yang tidak sebanding dengan jumlah siswa ini, akan mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan. Dengan demikian, jika mutu lulusan dari kampung rendah, maka Pemerintah Daerah tidak bisa menyalahkan guru karena penempatan guru tidak merata.
“Ada banyak penilaian, anak-anak dari kampung tidak bisa baca tulis atau bodok. Iya itu betul, kenapa? karena di kota 1 kelas 1 guru, sementara di kampung 1 sekolah 1 guru. Saya mau katakan, seorang guru itu biar pintar sampai di langit sekalipun, tapi kalau satu orang menghadap satu sekolah itu anak tidak mungkin bisa pintar,” ujarnya sinis.
Selain kekurangan guru, SD YPK Namatota juga mengalami kekurangan sarana belajar, seperti meja dan kursi. “Saya juga mau sampaikan, saya punya murid 115 orang, bangku dan kursi sudah tidak ada. Kelas 1 berjumlah 42 orang, sementara ini 5 anak menempati 1 bangku panjang untuk belajar,” ungkapnya.
Persoalan yang sama juga dihadapi SD Murano dan SD Foroma Jaya dan SD Maimai. SD Murano melalui Kepala Sekolah Ifo Reliubun mengeluhkan, kondisi sekolahnya yang memprihatinkan, dalam hal ini bangunan sekolah seperti kandang ayam. Sementara Maimai, mempersoalkan PAUD yang sudah ditutup. |KN10|IWI|
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik