Home / Opini / Kepemimpinan Kepala Sekolah di Masa New Normal

Kepemimpinan Kepala Sekolah di Masa New Normal

Bagikan Artikel ini:

Oleh: GERMANUS YEUYANAN, S.Pd

DALAM setiap kelompok selalu muncul adanya seorang pemimpin yang dapat memengaruhi dan mengarahkan anggotanya ke arah tujuan tertentu.Pemimpin dianggap mewakili aspirasi anggotanya, memperjuangkan kepentingan anggota, dan mewujudkan harapan sebagian besar anggotanya.

Selain karena faktor-faktor tertentu, biasanya pemimpin memiliki kecerdasan dan wawasan lebih luas dibandingkan dengan anggotanya.  Dengan demikian, wajar apabila kehadiran pemimpin sangat diharapkan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh anggotanya.Istilah kepemimpinan bukan merupakan istilah baru bagi masyarakat.

Di setiap organisasi, selalu ditemukan seorang pemimpin yang menjalankan organisasi. Kepemimpinan pada dasarnya adalah suatu proses menggerakkan, mempengaruhi dan membimbing orang lain dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi.

Ada empat unsur yang terkandung dalam pengertian kepemimpinan, yaitu unsur orang yang menggerakkan yang dikenal dengan pemimpin, unsur orang yang digerakkan yang disebut kelompok atau anggota, unsur situasi dimana aktifitas penggerakan berlangsung yang dikenal dengan organisasi, dan unsur sasaran kegiatan yang dilakukan.

Sekolah merupakan salah satu bentuk organisasi pendidikan.Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan di sekolah.Jika pengertian kepemimpinan tersebut diterapkan dalam organisasi pendidikan, maka kepemimpinan pendidikan bisa diartikan sebagai suatu usaha untuk menggerakkan orang-orang yang ada dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Nawawi (1985) yang mengemukakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi, menggerakkan, memberikan motivasi, dan mengarahkan orang-orang yang ada dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.Dalam organisasi pendidikan yang menjadi pemimpin pendidikan adalah kepala sekolah.

Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah memilikisejumlah tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Untuk bisa menjalankan fungsinya secara optimal, kepala sekolah perlu menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat.

Peranan utama kepemimpinan kepala sekolahtersebut, nampak pada pernyataan-pernyataan yang dikemukakan para ahli kepemimpinan.Knezevich yang dikutip Indrafachrudi (1983) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah sumber energi utama ketercapaian tujuan suatu organisasi.

Di sisi lain, Owens (1991) juga menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan merupakan sarana utama untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, agar kepala sekolah bisa melaksanakan tugasnya secara efektif, mutlak harus bisa menerapkan kepemimpinan yang baik.Saat memasuki awal Tahun ajaran baru 2020/2021 peran kepala sekolah sebagai pemimpin sangatlah penting di dalam menyiapkan teknik pembelajaran di masa new normal.

Segala persiapan harus direncanakan dengan matang terutama menyangkut sistim pembelajaran sebabkeselamatan pelajar harus dikedepankan dimasa new normal. Agar hal ini tidak menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan ditengah proses pembelajaran.

Segala peraturan protokol kesehatan segera di maksimalkan mulai dari sarana prasarana pendidikan dan fasilitas keperluan siswa selama mamasuki masa new normal. Selain itu penyesuaian penerapan protokol kesehatan perlu bagi para pelajar selama proses belajar. Seperti menerapkan pola hidup sehat saat berada di sekolah diwajibkan menggunakan masker, mencuci tangan dan menerapkan physical distancing (Jaga jarak).

Baca Juga:  Catatan Akhir Tahun 2022 "Pergerakan SMSI untuk Pers Indonesia"

Sistem pendidikan dituntut untuk dapat beradaptasi di masa pandemi Covid-19.Tenaga pendidik atau guru dipaksa menjalankan metode pembelajaran baru sesuai New Normal. Jadi secara otomatis sekolah yang melalui masa transisi ini harus melakukan proses shifting, artinya bahwa jumlah siswa didalam kelas harus dibagi menjadi dua shift idealnya delapan belas orang untuk shift pertama di pagi hari dan delapan belas orang untuk shift kedua di siang hari sehingga diharapkan proses belajar mengajar di dalam kelas dapat berjalan dengan baik sesuai protokol kesehatan.

Meski sekolah akan dibuka kembali, namun kegiatan yang diperbolehkan hanya belajar-mengajar di dalam kelas saja. Sedangkan untuk aktivitas lain seperti ekstrakurikuler, olahraga, dan kantin belum boleh dibuka.Persiapan ini tentu akan menimbulkan pro dan kontra, baik di kalangan orangtua maupun dari kalangan guru sendiri.

Dari kalangan orangtua, kekhawatiran mereka terhadap kesehatan peserta didik selama di sekolah tentunya dapatlah kita maklumi. Namun, dengan membekali masker, hand sanitizer, membawa bekal dari rumah, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan sesama peserta didik di sekolahakan menjauhkan mereka tertular dari Covid-19.

Usaha pihak sekolah untuk memberikan jaminan kesehatan selama peserta didik berada di sekolah tidak akan ada artinya bila tidak didukung orangtua dan dimulai dari rumah masing-masing, melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat.

Di kalangan guru sendiri, pro dan kontra tentang kebijakan mengajar dua gelombang dalam satu kelas pasti akan muncul. Keberatan karena terlalu lama berada di lingkungan sekolah (luar rumah), kurang waktu untuk istirahat, dan alasan lain pasti akan dilontarkan para guru.

Namun, bila kita menginginkan gerakan new normal pendidikan ini berjalan maka mau tidak mau,suka tidak suka harus tetap kita dukung dengan cara ikut melaksanakannya. Berdasarkan berbagai alasan di atas, maka untuk melaksanakan proses Kegiatan Belajar Mengajar  (KBM)  di masa New Normal perlu ada dukungan dari orang tua.

Dukungan yang diharapkan dari orang tua adalah sebagai berikut :

Pertama, beri gambaran seperti apa era new normal :New normal adalah kondisi dimana aktivitas tetap berlangsung seperti biasa termasuk sekolah, namun bukan berarti virus corona sudah mereda. Orangtua perlu memberi gambaran ini kepada anak supaya mereka tetap waspada ketika nantinya kembali ke sekolah. Selain itu bagi anak yang akan memasuki jenjang pendidikan baru, beri juga gambaran mengenai lingkungan barunya tersebut. Semisal dari TK ke SD, hal apa saja yang membedakan? Kalau dari segi muatan pelajaran, ada beberapa tambahan baru seperti belajar dalam bentuk Tematik dan beberapa bidang studi lainya seperti agama, penjas dan matematika. Yakinkan pula sang buah hati kalau mereka dapat menyesuaikan diri dan menjalani semuanya dengan lancar.

Baca Juga:  KAIMANA PU BATIK

Kedua, ingatkan lagi bahaya virus Corona:Mewabahnya virus corona ini tentu akan membawa dampak kurang mengenakkan bagi kehidupan anak, apalagi saat akan masuk sekolah di era new normal. Sebelum itu, orang tua perlu memberi pengertian lagi kepada anak tentang bahaya virus corona. Pemahaman yang baik tentu tak akan membuat anak takut, tetapi lebih waspada dengan lingkungan yang baru. Kita bisa memberikan edukasi kepada anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan jika masuk sekolah selama pandemi virus corona masih berlangsung.

Ketiga, ajari dan biasakan anak dengan protokol kesehatan :Tahun ajaran baru kali ini amat berbeda dari sebelumnya. Anak diharuskan kembali ke sekolah meskipun pandemi belum juga berakhir.Dengan kondisi tersebut, tentunya orang tua harus membiasakan anak dengan protokol kesehatan sekalipun daerahnya termasuk zona hijau. Nah, protokol kesehatan yang harus ditaati selama di sekolahantara lain:Memakai masker kain.

  • Selalu membawa hand sanitizer di saku seragam agar tidak terlupa.
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun yang disediakan di lingkungan sekolah.
  • Menjaga jarak dengan teman saat di sekolah.
  • Bawakan anak bekal atau jajanan dari rumah agar lebih higienis.

Keempat, latihan kedisiplinannya :Belajar di rumah selama ini membuat anak cukup sulit beradaptasi dengan rutinitas sekolah jika tahun ajaran baru sudah tiba. Hal ini menjadi tugas orang tua untuk membekali anaknya agar lebih disiplin, serta tidak merasa canggung untuk memasuki lingkungan barunya. Anak-anak harus kembali disiplin membiasakan diri untuk  menata ulang kehidupannya seperti biasa. Disiplin yang dilakukan bisa dimulai dari tidur tidak terlalu larut malam, bangun pagi, sarapan pagi, menyiapkan keperluan sekolah, dan lain sebagainya.

Kelima, tak perlu cemas berlebihan :Kecemasan yang berlebih hanya akan menumbuhkan sikap overprotective kepada sang buah hati. Wajar memang perasaan cemas tumbuh saat harus melepas anak di lingkungan baru, ditambah lagi masih dalam kondisi pandemi seperti sekarang.Namun, kita juga perlu memikirkan dampaknya terhadap anak. Selain membuat anak tidak nyaman, ia pun nantinya akan merasa tak percaya diri dan ikut cemas karena terpengaruhi sikap orangtuanya. Maka itu, hindari kecemasan berlebih karena bukannya jadi solusi, tapi justru akan memperkeruh keadaan.

Seperti itulah kira-kira persiapan yang harus dilakukan ketika anak masuk sekolah di era new normal. Jika orangtua sudah memberikan edukasi yang cukup tentang bagaimana cara menghadapi lingkungan baru selama masa pandemi ini, setelahnya cukup percayakan semua yang sudah diajarkan kepada sang anak. Selain itu, jalin pula komunikasi sebaik mungkin dengan penanggung jawab di sekolah, seperti Kepala Sekolah dan wali kelas untuk memantau kondisi lingkungan sekitarnya.***

*Penulis adalah Kepala SD Negeri 3 Kaimana, saat ini sedang studi program S2 Manajemen Pendidikan Universitas Cenderawasih.


Bagikan Artikel ini:

Check Also

Pemilu Serentak 2024 dan Peran Lembaga Pengawas

Bagikan Artikel ini: Oleh : Klara Isabela Wisang PEMILIHAN Umum atau yang disingkat Pemilu merupakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *