
KAIMANANEWS.COM – Jumlah siswa penerima makan siang gratis program nasional Presiden RI Prabowo Subianto di Kabupaten Kaimana terdata kurang lebih 19.000 anak dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK.
Pelaksanaan pemberian makan siang bergizi gratis ini sendiri belum direalisasikan karena masih menunggu petunjuk teknis (Juknis) berkaitan dengan mekanisme penyaluran.
Hal ini disampaikan Kabid Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kaimana, Ali Maksum dalam sebuah dialog yang digelar RRI Kaimana belum lama ini.
Dikatakan, terkait pemberian makan siang bergizi gratis yang merupakan program pemerintah pusat ini, perlu ada petunjuk teknis atau surat edaran sebagai dasar pelaksanaannya.
“Untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Kaimana sampai saat ini kita belum memperoleh surat edaran maupun petunjuk teknis tentang pelaksanaan makan gratis tersebut,” ungkapnya.
Ia mengatakan, dari sisi kesiapan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kaimana sangat siap dan mendukung sepenuhnya program Presiden RI Prabowo Subianto ini.
Namun untuk pelaksanaannya, diperlukan kajian yang mendalam mengingat letak sekolah dan kondisi geografis Kabupaten Kaimana yang sebagian besar harus dijangkau dengan menggunakan transportasi laut.
“Yang perlu kita pikirkan penyedia makanan gratis ini nanti oleh siapa. Kalau oleh sekolah tentunya sekolah akan kerepotan karena mau urus proses pembelajaran atau urus makan, apalagi Kaimana ini sebagian besar harus melalui laut. Kapan mereka harus ke kota belanja bahan makanan, kapan mengolahnya. Itu yang harus menjadi pertimbangan supaya program ini tidak gagal,” ungkapnya.
Terkait data penerima, Ali Maksum mengatakan, berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang biasa digunakan penyaluran dana BOS dan lainnya, jumlah siswa se-Kabupaten Kaimana mencapai 19.000 anak.
Jumlah ini berdasarkan Dapodik per 31 Agustus 2024 tersebar pada 54 TK/PAUD, 95 SD, 19 SMP/MTS dan 7 SMA/SMK. “Jadi dari PAUD sampai SMA/SMK itu kurang lebih ada 19000 anak,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Ali Maksum kembali menegaskan, pelaksanaan program makan siang bergizi di Kabupaten Kaimana harus dikaji secara baik karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.
“Tantangannya pasti berat terutama sekolah kecil di pedalaman yang menjadi pertimbangan adalah biaya operasionalnya karena murid yang akan dilayani sedikit sementara tempatnya jauh. Contoh Pigo, itu biaya kesananya cukup besar, sementara anak yang mau dikasih makan hanya beberapa. Paling tidak perencanaan harus matang supaya lebih efektif,” pungkasnya. |isw|












KAIMANA NEWS Media Informasi Publik