
KAIMANANEWS.COM- Penyebaran virus HIV-AIDS di Kaimana masih menjadi ancaman serius dan membutuhkan perhatian khusus semua lembaga atau pihak-pihak terkait.
Pasalnya, belakangan ini kasus yang tampak seperti fenomena gunung es tersebut, tidak hanya mengincar orang dewasa, tetapi remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah pun terinveksi virus mematikan ini.
Seperti dialami pelajar pada salah satu Sekolah Menengah Pertama berpola asrama di salah satu wilayah. Remaja malang ini diketahui mengalami Inveksi Menular Seksual (IMS) dan reaktif HIV-AIDS.
Ironisnya lagi, dari hasil penelusuran yang dilakukan petugas kesehatan setempat, dalam kondisi tersebut, yang bersangkutan telah melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang.
Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kaimana, Jubair Rumakat, SKM membenarkan hal ini ketika dikonfirmasi disela kegiatan workshop pembinaan mutu dan pelaksanaan akreditasi Puskesmas, Selasa (6/6/2023).
Didampingi seorang dokter yang mengetahui kondisi si pelajar, Jubair menjelaskan, kasus yang dialami pelajar yang keseharian hidup di asrama sekolah ini merupakan satu dari sekian banyak kasus HIV-AIDS yang ada di wilayah Kabupaten Kaimana.
Penyebaran virus HIV-AIDS di Kaimana lanjutnya, terus mengalami peningkatan. Dan untuk menekan tingginya angka penyebaran HIV-AIDS dimaksud, dibutuhkan kolaborasi terstruktur dan terarah antar semua lembaga yang ada di wilayah ini.
Pencegahan HIV-AIDS lanjutnya, bukan hanya menjadi tugas Dinas Kesehatan, tetapi menjadi tanggungjawab bersama lintas sektor, baik OPD dan elemen terkait lainnya, termasuk juga KPAD (Komisi Penanggulangan AIDS Daerah).
Dikatakan, KPAD dalam kedudukannya diharapkan bisa merangkul semua elemen masyarakat, termasuk LSM pendamping ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) agar penyebaran virus mematikan ini bisa dicegah dan ditekan.
Kerja bersama lintas sektor lanjutnya diperlukan karena Dinas Kesehatan tidak mempunyai kapasitas untuk melakukan pemeriksaan HIV-AIDS. Upaya mendeteksi dini penularan HIV-AIDS pada masyarakat hanya bisa dilakukan pihak rumah sakit atau Puskesmas.
Jubair juga menyebut, kerjasama lintas sektor dalam menangani HIV-AIDS juga diperlukan agar setiap lembaga ikut bertanggungjawab melakukan pencegahan.
“Seperti yang dialami seorang pelajar di salah satu sekolah berpola asrama itu. Dia terinfeksi menular seksual dan setelah ditelusuri, yang bersangkutan ternyata telah melakukan hubungan seksual lebih dari satu orang. Disini lah Dinas Pendidikan bisa memainkan peran, mungkin dengan memperketat aturan asrama atau cara lainnya,” ujarnya. |SMI|RED|
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik