
KAIMANANEWS.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Kaimana melalui Bidang Kesehatan Masyarakat menggelar pertemuan pemetaan dan analisis situasi dalam rangka percepatan penurunan stunting, 21-24 Oktober 2022.
Pertemuan melibatkan para kepala puskesmas, koordinator penanggungjawab laporan di puskesmas, tenaga pelaksana gizi puskesmas, tenaga kesehatan lingkungan dan OPD terkait yang dilaksanakan di Kaimana Hotel Beach ini dibuka Kepala Bappeda-Litbang Kaimana, Abdul R. Furuada, Jumat (21/10/2022).
Kegiatan ini menghadirkan nara sumber dari LGCB-ASR Iney Regional V Makassar Ditjen Bina Bangda Kemendagri Jawahir, serta Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Andre Parinusa.
Ketua panitia yang juga selaku Kepala Seksi Kesling dan Kejaor Bidang Kesehatan Masyarakat, Nyoman Winata menjelaskan, tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut untuk mengetahui ada tidaknya perbaikan situasi pelaksanaan program pencegahan dan penurun stunting, sebagai dasar perumusan rekomendasi perencanaan tindakan perbaikan manajmenen layanan kesehatan.

Penurunan stunting lanjutnya, dititikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi yaitu ketahanan pangan, lingkungan sosial, pelayanan kesehatan, serta kesehatan lingkung yang meliputi ketersediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.
“Analisis situasi dilakukan untuk memahami permasalahan dalam integrasi intervensi gizi spesifik dan sensitif pada sasaran rumah tangga 1.000 hari pertama kehidupan (HPK),” terang Nyoman.
Ia juga menjelaskan, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menyebutkan, angka kasus stunting Kabupaten Kaimana tahun 2021 sebesar 28,5 persen. Hasil entry e-PPGBM tahun 2022 pada 8 puskesmas dari 10 puskesmas di Kaimana pertanggal 26 September 2022 mencatat prevalensi stunting sebesar 21,1 persen.
Sementara angka prevalensi di Papua Barat berada diatas angka nasional yaitu sebesar 26,2%, dimana angka nasional sendiri berdasarkan SSGI adalah sebesar 24,41%. Angka kasus stunting dari tahun 2021-2024 di Papua Barat rata-rata sebesar 2,5% setiap tahunnya.
“Bertolak dari data diatas maka perlu untuk dilakukan pemetaan dan analisis situasi agar petugas Puskesmas dan lainnya dapat melengkapi setiap data yang diperlukan guna perbaikan manajemen pelayanan,” pungkasnya. |FRJ|RED|

KAIMANA NEWS Media Informasi Publik