Home / Opini / Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Menghadapi Generasi iGen

Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Menghadapi Generasi iGen

Bagikan Artikel ini:

Oleh: ESMA RITA, S.Th

Makna “Membinasakan Bait Allah” pada 1 Kor 3:17 dan Implikasinya Terhadap Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Menghadapi Generasi iGen

ABSTRAK:

Berdasarkan pokok permasalahan yang ada, tujuan karya ilmiah ini adalah: pertama, memberikan makna yang benar tentang orang percaya adalah bait Allah berdasarkan 1 Kor 1:17. Kedua, mengimplikasikan makna bait Allah dalam tugas dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Kristen menghadapi generasi iGen.

Kesimpulannya adalah: pertama, yang dimaksud dengan bait Allah pada 1 Kor 1:17 adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan tinggal didalam perjanjian. Kedua, membinasakan bait Allah berdasarkan 1 Kor 3:17 ditujukan Paulus kepada setiap orang percaya bahwa tindakan membinasakan adalah sebuah bentuk pencemaran terhadap bait Allah yang adalah diri kita melalui cara hidup yang cemar (hidup dengan perzinahan) dan atau memasukan sesuatu yang cemar ke dalam tubuh kita (narkoba, minuman keras, ilmu-ilmu kegelapan); merusak tubuh dengan bunuh diri dan memasukkan ajaran sesat ke dalam kehidupan kita yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ketiga, bait Allah harus kudus, oleh sebab itu harus tetap dipelihara secara terus menerus.

Implikasi terhadap bait Allah terhadap peran guru pendidikan agama di tengah industri 4.0 menghadapi generasi iGen adalah pertama, guru pendidikan agama Kristen sebagai orang percaya wajib menjalankan peranannya untuk memelihara generasi iGen dengan mengajar, melatih, memotivasi, membimbing, menasehati remaja, tentang Firman Tuhan. Kedua, seorang guru pendidikan Agama Kristen harus memiliki pribadi seperti Kristus, berkualitas, dan terus meningkatkan dirinya untuk menghadapi generasi iGen yang terpengaruh dengan teknologi 4.0.

Kata Kunci : Membinasakan, bait Allah, tugas dan tanggung jawag guru PAK, 1 Kor 3:17

The Meaning of “Destroying the Temple of God” in 1 Cor 3:17 and Its Implications for the Role of Christian Education Teachers in Dealing with the Generation of iGen

ABSTRACT:

Based on the existing issues, the objectives of this scientific work are: first, to give the true meaning of believers as the temple of God based on 1 Cor 1:17. Second, it implies the meaning of the temple of God in the duties and responsibilities of Christian Religious Education teachers facing the iGen generation.

The conclusion is: first, what is meant by the temple of God in 1 Cor 1:17 are people who believe in Jesus Christ and live in the covenant. Second, destroying the temple of God based on 1 Cor 3:17 is addressed by Paul to every believer that the act of destroying is a form of contamination of the temple of God which is us through a defiled way of life (living with adultery) and or entering something unclean into the body. us (drugs, liquor, the dark arts); corrupting the body by committing suicide and incorporating heresies into our lives that are contrary to God’s Word. Third, the temple of God must be holy, therefore it must be maintained continuously.

The implications of the temple of Allah on the duties and responsibilities of religious education teachers in the midst of industry 4.0 facing the iGen generation are that first, Christian religious education teachers as believers are obliged to carry out their duties and responsibilities to nurture the iGen generation by teaching, training, motivating, guiding, advising teenagers , about the Word of God. Second, a Christian religious education teacher must have a Christ-like personality, be of high quality, and continue to improve himself to face the iGen generation that is affected by technology 4.0.

Keywords: Destroy, temple of God, the role of PAK teachers, 1 Cor 3:17

 Pendahuluan

Bait Allah merupakan pembahasan penting yang ada pada Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dengan makna fisik atau makna tersirat yang saling berhubung baik secara tersirat maupun implisit. Bait  Allah  di  Yerusalem  dibangun  oleh  Salomo,  putra  Daud.  Bait  Allah juga  dikenal  sebagai  Kuil  Pertama  adalah  Kuil  Suci  (Ibrani: בֵּית־הַמִּקְדָּשׁ: Bet  HaMikdash; Arab: بيت المقدس: Beit  al-Quds)  di  Yerusalem  kuno,  di  gunung  Bait  Allah (Temple  Mount)atau  yang  dikenal  juga  sebagai  Gunung  Zion[1], yang  juga  dikenal sebagai  tempat Akedahatau  ikatan  Abraham atas  Ishak  (Kejadian  22:  1-24)[2] (Killebrew, 2015). Bait Allah dibangun oleh Salomo dengan arahan dari Raja Daud.  Bait Allah yang pertama hancur total di tahun 587 / 586 SM, saat Raja Zedekia dikalahkan oleh Nebukadnezar[3]. Dan membawa bangsa Israel ke pembuangan serta menjarah semua milik Israel [4]Sejarah pembangunan bait Allah terus berlanjut hingga Yesus datang ke dunia dan melaksanakan misi Allah bagi manusia.

Bait  Allah  memiliki makna penting bagi orang percaya  dalam  arti  bahwa  korban  penebusan Yesus  yang diartikan sebagai korban persembahan (PL).  Dan tentu saja ini dikaitkan dengan korban penebusan Yesus yang sulung, kudus dan tidak bercela untk menyelamatkan manusia. Dan konse ini banyak ditemukan pada     kepenulisan   Paulus [5] (Lundquist, 2008, p. 152). Bait Allah ini juga merupakan gambaran dari  Bait  Allah  surgawi  yang menjadi  tempat  kediaman  Allah  selama-lamanya [6] . Konsep pemahaman Paulus pada 1 Korintus 3:17 dilatarbelakangi oleh masuknya ajaran sesat di Jemaat Korintus. Pengajar-pengajar palsu dengan ajaran-ajarannya masuk ke dalam kehidupan jemaat di Korintus [7]. Hal ini membuat Paulus memberi respon dengan menuliskan Surat kepada Jemaat di Korintus dengan menggunakan sebuah ilustrasi tentang ahli bangunan yang membuat dasar dan bagaimana seseorang bertanggung jawab dengan bangunan yang ada di atasnya. Jika pondasi sebuah bangunan sudah dibangun dengan benar, maka seseorang juga perlu memikirkan bangunan yang dibangun di atas pondasi tersebut.Dan bangunan tersebut harus diperlu dipelihara. Penulis melihat bahwa konsep keselamatan bait Allah tergambar jelas pada 1 Korintus 3:17. Rumusan masalah pada karya ilmiah ini adalah untuk memaparkan makna membinasakan bait Allah menurut konsep teologi Rasul Paulus dan peran guru pendidikan agama Kristen dalam memelihara bait Allah dalam hal ini adalah dirinya sendiri dan generasi iGen yang hidup dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang begitu terbuka dan maju.

Baca Juga:  KEPADA SIAPA PEREMPUAN MENGADU?

METODE

Dalam melaksanakan karya ilmiah ini melakukan penelitian pustaka yang dimulai dengan mengkaji pandangan membinasakan bait Allah  berdasarkan surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus dan implikasinya terhadap peran guru pendidikan agama Kristen dalam menghadapi Generasi iGen. Sumber-sumber pustaka yang relevan penulis gunakan untuk TR memperkaya analisis tentang konsep keselamatan Paulus. Hasil penelitian penulis sajikan secara deskriptif tematis sesuai dengan konstruksi konsep dari proses penelitian.

PEMBAHASAN
3:17 LAI TB, Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.
KJV, If any man defile the temple of God, him shall God destroy; for the temple of God is holy, which temple ye are.
TR, ει τις τον ναον του θεου φθειρει φθερει τουτον ο θεος ο γαρ ναος του θεου αγιος εστιν οιτινες εστε υμεις
Translit interlinear, ei {jika} tis {ada orang, indefinite pronoun – nominative singular masculine} ton naon {bait} tou theou {Allah} phtheirei {membinasakan, verb – present active indicative – third person singular} phtherei {akan membinasakan, verb – future active indicative – third person singular} touton {(orang) ini,demonstrative pronoun – accusative singular masculine} ho theos {Allah} ho {sebab} gar naos {bait} tou theou {Allah} hagios {kudus} estin {adalah} hoitines {yaitu} este {adalah} humeis {kalian,personal pronoun – second person nominative plural.

Paulus merupakan seorang rasul yang dalam tulisannya dominan berbicara mengenai soteriologi. Paulus diutus untuk melayani orang Yahudi maupun non-Yahudi.[8] Penulis memahami bagaimana Paulus yang secara rutin membangun pondasi mengenai Injil Kristus di tengah-tengah jemaat di Korintus mendapatkan sebuah informasi mengenai perselisihan, perbedaan pendapat yang terjadi di tengah-tengah jemaat Korintus. Tidak heran meskipun Paulus mengalami penderitaan, dia menuliskan surat kepada jemaat di Korintus sebagai bentuk nasehat. Jemaat di Korintus. Selama 18 bulan berada di Korintus, Paulus membuat sebuah pondasi tentang Yesus Kristus. Ternyata sepeninggalan Paulus, Korintus yang merupakan sebuah daerah sebagai pusat perdagangan, dengan masyarakat yang begitu akrab dengan filsafat dan ilmu pegetahuan dimasuki oleh pengajaran-pengajaran sesat yang lebih mengutamakan pengetahuan (stoa). Penulis menganggap karena Korintus merupakan suatu daerah persinggahan pedagang maka tidak heran Korintus begitu terbuka terhadap pendatang dengan ajaran-ajaran yang menyimpang dari “jalan Tuhan”. Jemaat Korintus yang mengidolakan sosok pemimpin dan membaginya kedalam kelompok-kelompok, menjadikan pemimpin sebagai dewa. Ajaran-ajaran palsu yang dibawa oleh pengajar-pengejar sesat memunculkan perselisihan, iri hati, immoralitas.

1 Kor 3:17 merupakan surat Paulus kepada Jemaat di Korintus untuk mengingatkan apa yang sebenarnya mereka sudah ketahui bahwa mereka adalah “bait Allah”dalam bentuk pertanyaan retorik. Paulus menggunakan kata “Naos” untuk menjelaskan tubuh kita adalah ruang mahakudus, yang seharusnya dijaga dan dipelihara untuk tetap suci dan kudus karena Roh Allah ada di dalamnya. Membinasakan adalah sebuah tindakan pencemaran dan pengerusakan terhadap bait Allah baik.[9]

Membinasakan bait Allah berarti menentang tujuan penebusan Allah dengan cara memecah belah, senang berselisih paham, berdebat liar dengan doktrin dan ajaran yang palsu yang menolak ajaran salib dan menganggap salib sebagai suatu kebodohan serta memutarbalikan kebeasan Injil menjadi immoralitas yang tidak terbatas.Menganggap bahwa perbuatan baik merekalah yang menyelamatkan mereka bukan keselamatan karena iman.

Menarik, Paulus mengatakan bahwa setiap pekerjaan harus dipertanggungjawabkan, dalam arti bahwa setiap pengajar-pengajar dengan ajaran sesatnya akan dibinasakan oleh Allah.[10]

Implikasinya Terhadap Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Menghadapi Generasi iGen

Baca Juga:  NASIB GENERASI Z DITENGAH ARUS PERKEMBANGAN ZAMAN

Peran Guru Pendidikan Agama Kristen adalah sebagai gambaran atau contoh dari bait Allah yang hidup. Guru PAK berperan, mendidik, mendampingi, memotivasi, membina, menaungi, memelihara dan menginspirasi secara terus menerus. Guru PAK wajib  menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya tentang Yesus Kristus berdasarkan Firman Tuhan dengan terus menerus. Guru PAK memiliki tanggung jawab memelihara dan menjaga dirinya sebagai bait Allah dengan terus berusaha menjadi pribadi yang seturut Firman Tuhan, terus meningkatkan kualitas dan kompetensi diri. Sehingga mampu mendidik dan memelihara generasi iGen yang hidup dengan kecanggihan teknologi, kebebasan di alam maya, keterbukaan terhadap informasi secara bebas untuk tetap berpegang teguh pada iman dan percaya mereka. Kemajuan teknologi 4.0 memberi ruang untuk mempelajari berbagai hal yang tidak bisa batasi. Oleh sebab itu seorang guru PAK memiliki peran untuk membangun sebuah bangunan di atas pondasi yang benar, karena setiap pekerjaan yang dilakukan akan duji kebenarannya (1 Kor 3:14). Setiap guru Pendidikan Agama Kristen memiliki sumpa janji jabatan, dihadapan Tuhan, pemerintah, masyarakat dan dirinya sendiri. Oleh sebab itu sebagai guru pendidikan agama Kristen perlu bagi kita untuk mengambil peran kita berdasarkan sumpah jabatan kita untuk mendidik, membina, mendampingi, memotivasi, menanungi, menginspirasi setiap peserta didik kita dengan menyampaikan kebenaran tentang Allah sebenarnya sebagai sebuah pondasi dan membangun kepribadian seperti Kristus, sehingga generasi iGen yang syarat dengan kemajuan teknokogi yang tidak terbendung dan tidak terbatas, mampu menghadapi ajaran-ajaran palsu dan terus menjaga dirinya sebagai bait Allah yang kudus dan berkenan kepadaNya.[11]

Tidak menjalankan perannya dengan benar sebagai guru Pendidikan Agama Kristen akan memunculkan banyak kekacauan bagi masyarakat terutama bagi setiap bait Allah yang adalah generasi iGen yang tidak lain adalah peserta didik kita sendiri. “kamu” yang adalah bait Allah juga seharusnya tahu bahwa memelihara bait Allah “naos” untuk tetap kudus dan berkenan juga adalah bagian kita secara pribadi dengan Tuhan dan secara peran terhadap tugas dan tanggung jawab kita dihadapan masyarakat, dan saya sebagai penulis menyebutnya sebagai tugas dan tanggung jawab secara vertikal dan horizontal.

Kesimpulan

Bait Allah berdasarkan 1 Kor 3:17 adalah “kamu” dalam bentuk plural/jamak yang artinya bahwa setiap orang percaya adalah bait Allah. Bait Allah menggunakan kata ‘Naos” yang arinya ruang Maha Kudus yang di dalamnya Roh Allah tinggal.

Makna kata membinasakan adalah sebuah pencemaran, pengrusakan, penistaan terhadap bait allah dengan cara memutarbalikan kebenaran Injil menjadi immortalitas yang bebas. Pengajar-pengajar palsu dengan ajaran sesatnya akan dibinasakan dari apa yang disebabkannya sebagai wujud pertanggungjawaban akibat dari ajarannya [12].

Implikasi 1 Kor 3:17 terhadap peran guru pendidikan Agama Kristen sebagai “kamu” orang percaya yang mengetahui bahwa tubuhnya adalah bait Allah atau “naos” yang adalah ruang Maha Kudus wajib menjaga dirinya untuk tetap kudus dan berkenan kepada Allah, karena di dalam ruang Maha Kudus Roh Allah tinggal. Sebagai seorang pengajar, guru berperan mengajar, mendidik setiap generasi iGen untuk tetap percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan takut akan Allah, mendidik peserta didik untuk kokoh berdiri di tengah kemajuan teknologi yang tidak bisa dibatasi. Dengan menjalankan perannya secara terus menerus menyampaikan Injil dengan sebenarnya, maka sumpah janji jabatan kita dihadapan Tuhan, negara, masyarakat dan diri kita sendiri dapat kita laksanakan dan pertanggungjawabkan dengan benar. Jika tidak Allah akan membinasakan orang yang membinasakan bait Allah sebagai bentuk tanggung jawab atas kehancuran bait Allah.[13]

RUJUKAN

google. (n.d.-a). Herod’s Temple.

https://images.search.yahoo.com/search/images;_ylt=Awr9DWvXczJgzWYAJjKJzbkF;_ylu=c2VjA3NlYXJjaARzbGsDYnV0dG9u;_ylc=X1MDOTYwNjI4NTcEX3IDMgRhY3RuA2NsawRjc3JjcHZpZANFdWpzSkRFd0xqSXJXc0JoWHpTOXhnYWdNVEUwTGdBQUFBRFlIRGp0BGZyA21jYWZlZQRmcjIDc2EtZ3AEZ3ByaWQDTTZz

google. (n.d.-b). Solomon’s Temple.

https://images.search.yahoo.com/search/images;_ylt=Awr9FqwtbzJgXx8A9syJzbkF;_ylu=c2VjA3NlYXJjaARzbGsDYnV0dG9u;_ylc=X1MDOTYwNjI4NTcEX3IDMgRhY3RuA2NsawRjc3JjcHZpZANlMDI3U1RFd0xqSXJXc0JoWHpTOXhnUlZNVEUwTGdBQUFBQ1E4NWhGBGZyA21jYWZlZQRmcjIDc2EtZ3AEZ3ByaWQDXzA0

google. (n.d.-c). Temple Comparison.

https://images.search.yahoo.com/search/images;_ylt=Awr9DWvXczJgzWYAJjKJzbkF;_ylu=c2VjA3NlYXJjaARzbGsDYnV0dG9u;_ylc=X1MDOTYwNjI4NTcEX3IDMgRhY3RuA2NsawRjc3JjcHZpZANFdWpzSkRFd0xqSXJXc0JoWHpTOXhnYWdNVEUwTGdBQUFBRFlIRGp0BGZyA21jYWZlZQRmcjIDc2EtZ3AEZ3ByaWQDTTZz

google. (n.d.-d). The Second Temple off Jerusalem.

https://images.search.yahoo.com/search/images;_ylt=Awr9DWvXczJgzWYAJjKJzbkF;_ylu=c2VjA3NlYXJjaARzbGsDYnV0dG9u;_ylc=X1MDOTYwNjI4NTcEX3IDMgRhY3RuA2NsawRjc3JjcHZpZANFdWpzSkRFd0xqSXJXc0JoWHpTOXhnYWdNVEUwTGdBQUFBRFlIRGp0BGZyA21jYWZlZQRmcjIDc2EtZ3AEZ3ByaWQDTTZz

Hadiwijono, H. (1992). Iman Kristen. BPK Gunung Mulia.

Hill, Andrew & Walton, J. (2008). Survey Perjanjian Lama. Penerbit Gandum Mas.

Paul Widyawan (aransemen); Karl-Edmund Prier SJ, P. (aransemen). (2018). Perahu Kristus : buku kor/ Paul Widyawan, P. Karl-Edmund Prier SJ. Yogyakarta :: Pusat Musik Liturgi,.

Tandiassa, S.. Soteria : doktrin alkitab tentang keselamatan / S.Tandiassa. Yogyakarta :: Moriel publishing,, 2009

Jacobs, Tom, 1929-. (1992). Paulus Rasul / Tom Jacobs. Yogyakarta :: Kanisius,.

https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/DJCE/article/view/345/pdf

https://skripsi.sttjaffray.ac.id/index.php/skripsi/article/view/98

[1]. Block Smith,2020

[2]. Killerbrew,2015

[3] Arifianto, 2020

  1. Lundquist, 2008, p.71

 [5] Lundquist,2008, p.152

[6] Corner, 1988, P.2

[7] Billy Kristanto, Ajarlah Kami Bertumbuh (Surabaya: Momentum, 2009), 45.

[8] Tenney, Merrill C. Survei Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas, 2001.

[9] Paul Ellingworth dan Howard Hatton, Pedoman Penafsiran Alkitab Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaat di Korintus (Jakarta: LAI, 2010), 89

[10] Manfred T Brauch, Ucapan Paulus yang Sulit, SAAT Malang, p. 78-83

[11] Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen, 2

[12] Hillyer, op. cit., hlm. 502

[13] Ibrahim, op.cit., hlm. 54

Penulis adalah Guru pada SMA Negeri 2 Kaimana


Bagikan Artikel ini:

Check Also

Pemilu Serentak 2024 dan Peran Lembaga Pengawas

Bagikan Artikel ini: Oleh : Klara Isabela Wisang PEMILIHAN Umum atau yang disingkat Pemilu merupakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *