
Oleh : Rahmiani Tiflen, S.Kep
(Pegiat literasi & Praktisi Kesehatan)
KEBERSIHAN adalah sebagian dari iman, kalimat ini tentu bukan sesuatu yang tanpa arti tetapi bermakna yang sangat dalam, terlebih bagi seorang yang beriman. Sayangnya masih banyak diantara kita yang abai bahkan kurang peduli tentang masalah kebersihan. Tengok saja di halaman atau pekarangan sekitar, apakah sampah yang kita hasilkan itu telah dibuang pada tempatnya?
Baiklah para pembaca yang budiman. Kali ini penulis ingin mengajak kepada kita sekalian untuk sejenak berpikir tentang dampak dari sampah plastik yang kita buang secara sembarangan, apa yang bakal terjadi pada anak cucu kita di kemudain hari. Bumi ini sangatlah indah terlebih kabupaten kaimana yang sama-sama kita cintai ini. Jika sore hari ketika langit begitu cerah, maka sinar jingga akan tampak mempesona terlukis dihamparan angkasa. Semua itu merupakan anugerah yang tiada ternilai dari Tuhan yang Maha Kuasa, diberikan kepada kita umat-Nya sebagai sumber alam yang tiada terkira.
Lihat juga pesisir pantai yang begitu elok, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Kabupaten kaimana merupakan salah satu kabupaten dengan potensi laut yang luar biasa amazing. Dengan luas perairan ± 17.500 km² dilengkapi dengan beragam biota laut seperti diantaranya ikan, udang, cumi, dan juga terumbu karang. Akan tetapi amat disayangkan jika laut kita kemudian tercemar oleh sampah baik itu sampah plastik maupun limbah rumah tangga lainnya.
Hal ini tentu menjadi PR besar, bukan saja milik pemerintah namun juga menjadi perhatian kita bersama. Bayangkan saja jika ekosistem laut kita tercemar limbah, sampah plastik misalnya. Bagaimana nasib terumbu karang yang notabene adalah “rumah” tempat segala macam hewan laut bernaung didalamnya. Apa yang akan terjadi jika ikan-ikan itu memakan sampah plastik tersebut? Hewan-hewan malang itu boleh jadi akan mati bahkan dalam kasus yang lebih parah lagi bisa saja apabila perilaku buruk itu (membuang sampah di laut) terjadi terus menerus maka segala macam biota laut yang indah itu akan musnah disebabkan kerusakan ekosistem yang parah.
Lalu akan kemana bapak-bapak, kakak laki-laki, mama-mama dan saudara kita mencari nafkah? Bagaimana pula nasib anak-anak kita jika kelak ikan-ikan itu sudah tidak bisa didapatkan lagi, mau makan apa kita? Mau dapat mineral dan gizi demi keberlangsungan tumbuh kembang anak tentu akan sulit. Dan yang lebih parah lagi, generasi kita akan tumbuh dalam segala keterbatasan intelektual yang tidak mumpuni.
Belum lagi dengan hutan yang terhampar seluas 1.500.912,41 hektar. Bukan main, bahkan Kaimana memiliki hutan terbesar nomor dua setelah Kabupaten Teluk Bintuni. Tentu ini menjadi potensi bagi seluruh warga masyarakat yang bernaung di dalamnya. Jika semua potensi yang ada, baik hutan, laut, maupun sektor lainnya dikelola dengan maksimal dan baik maka sudah barang tentu hasilnya pun dinikmati oleh masyaralat hingga sejahtera.
Tapi bagaimana jika sampah plastik itu dibuang secara membabibuta di hutan-hutan perawan kita? Lalu bagaimana nasib pohon, burung, serta hewan-hewan lain yang hidup didalamnya. Tentu hal ini pun menjadi permasalahan serius jika tidak kita sikapi bersama, sama halnya dengan kasus sampah laut yang penulis bahas di atas. Jika sudah begini bagaimana nasib mama, bapak, kakak, adik, dan saudara kita semua? Dimana lagi akan bercocok tanam? Jika tanah telah terkontaminasi tentu tumbuhan yang tumbuh diatasnya pun akan mengalami pencemaran, hingga tidak layak dikonsumsi.
Untuk itu pula kita tentu tidak ingin jika sepuluh atau duapuluh tahun mendatang kota tercinta ini akan berubah menjadi kota yang buruk dengan tumpukan sampah serta tempat bersarangnya bibit penyakit lainnya. Kita pun tentu tidak ingin jika kelak anak cucu kita mengalami nasib yang naas, dimana dampak dari sanitasi serta lingkungan yang buruk akan merembet ke persoalan lain seperti efek limbah bagi turunnya tingkat inteligensi seseorang. Bukankah telah tampak nyata dihadapan kita, apa yang bakal terjadi jika semua orang abai dengan lingkungan?
Hari ini, begitu banyak bencana alam, global warming, hingga lahirnya bayi-bayi cacat ternyata mempunyai korelasi yang kuat dengan dampak lingkungan yang buruk termasuk perihal sampah. Sehingga sudah barang tentu kita tidak ingin kota tercinta Kabupaten Kaimana mengalami hal serupa di kemudian hari. Yang kita harapkan adalah agar kelak kota ini akan terus berkembang secara baik, menjadi primadoda serta kebanggaan bagi penduduknya hingga generasi mendatang.
Oleh karenanya, sejenak perhatian kita tujukan pada persoalan sampah tersebut diatas, melalui aksi nyata yang timbul dari kesadaran bersama. Berangkat dari pribadi masing-masing, dengan meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan, melalui gerakan membuang sampah pada tempatnya. Jika hendak bepergian mungkin bisa dengan membawa bekal sendiri (tempat minum dan tempat makan), bila berada di tempat umum sampah milik kita kalau boleh disimpan dulu sampai kemudian kita ketemu tempat sampah, baru kemudian membuang sampahnya di situ, berikutnya jika berkendara hendaklah jangan membuang sampah dari balik jendela mobil atau dari atas motor. Sayang sekali jika kita melakukan itu semua. kemudian kita dapat memisahkan antara sampah plastik (yang tidak dapat diurai) maupun sampah basah (yang dapat diurai).
Selanjutnya untuk tingkat komunitas atau masyarakat, ada sebuah contoh yang patut ditiru bahkan boleh menjadi lifestyle bagi seluruh masyarakat Kabupaten Kaimana, terlebih lagi pemuda. Seperti yang pernah dilakukan oleh para pemuda yang didukung oleh Yayasan Econusa serta melibatkan beberapa organisasi lainnya antara lain; Osis SMK Negeri 2 Kaimana, remaja masjid, pemuda gereja, ibu-ibu pengajian mualaf, pemuda cendrawasih, KNPI dan komunitas fotografer Kaimana beberapa waktu yang lalu.
Melalui Gerakan Jaga Laut, anak muda kita dengan sangat membanggakan telah tampil menjadi role mode serta pelopor bagi perubahan ke arah yang lebih baik. Bisa juga dengan pembuatan bank sampah, kemudian dapat diakomodir oleh ketua RT agar sampah – sampah yang hendak di buang dapat dipilah dengan baik di bank sampah ini sebelum nantinya dibuang ke tempat pembuangan terakhir (tapi ini khusus untuk sampah kering saja). Dari bank sampah, bisa jadi masih ada sampah yang dapat didaur ulang, sehingga dari situpun kita bisa memantik kreativitas para pemuda.
Yang terakhir dan sangat memegang andil dalam hal ini adalah pemerintah. Melalui program yang berkesinambungan pemerintah akan melakukan pengadaan tempat sampah yang lebih memadai, terpisah antara sampah basah maupun sampah kering. Kemudian jadwal pengangkutan sampah yang mungkin dapat diadakan minimal perhari, sehingga sampah – sampah yang ada tidak mengalami pembusukan serta tidak teronggok keluar dari tempatnya yang justru akan menimbulkan masalah baru yakni tempat berkembang biaknya bibit penyakit.
Kiranya dengan semua kepedulian serta peran aktif dari berbagai kalangan, kita dapat ikut berkontribusi bagi pembangunan Kabupaten Kaimana, sehingga bumi tempat berpijak ini manjadi sebab Tuhan melimpahkan berkah serta Rahmat-Nya kepada kita semua.
Kaimana, 28 Maret 2021
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik