
KAIMANA- Penggunaan dana desa harus didasarkan pada kebutuhan masyarakat yang diusulkan melalui musyawarah bersama. Hal ini lah yang menjadi dasar bagi Pemerintah Kampung Wanoma, Distrik Arguni Bawah dalam memanfaatkan dana desa selama ini.
“Kami gunakan dana desa sesuai usulan masyarakat melalui musyawarah kampung,” ungkap Kepala Kampung Wanoma, Siska Nauseni saat ditemui di Grand Papua Hotel, Rabu (24/10).
Siska yang berada di kota dalam rangka menghadiri peresmian Bamuskam mengatakan, selain mengacu pada usulan masyarakat, pelaksanaan setiap pekerjaan juga dilakukan secara bertahap, yang disesuaikan dengan besaran dana yang dialokasikan.
Beberapa kegiatan yang sudah dan sedang dilaksanakan sebutnya adalah, pembangunan rumah masyarakat 5 unit, pengadaan motor jonson 11 unit, pengadaan body fiber 5 unit, pembuatan sumur untuk kebutuhan air bersih.
Selain itu, dialokasikan pula untuk pelebaran jalan setapak, pengadaan freezer untuk pembekuan ikan hasil tangkapan warga sebelum dibawa ke pasar yang dilengkapi sarana pendukung berupa solar cell, dan pengadaan bantuan alat penangkapan ikan.
Disamping untuk kegiatan ekonomi, dana desa juga dialokasikan untuk menunjang program bidang keagamaan, seperti pembangunan pagar gereja, pembangunan menara lonceng gereja, pelatihan musik keyboard bagi dua warga untuk ibadah di gereja, serta pelatihan perbaikan mesin listrik yang juga melibatkan dua warga kampung.
“Ada yang sudah selesai, tetapi ada yang sementara dikerjakan karena memang harus bertahap sesuai alokasi dana. Untuk sumur, awalnya kami mencoba sumur bor tetapi karena hasilnya berlumpur, kita alihkan ke sumur gali. Dalam RAB memang hanya satu, tapi karena di kampung ada 2 RT, maka kami sedang upayakan untuk tambah satu lagi,” ungkapnya.
Ditambahkan, pengelolaan dana desa memang tidak luput dari adanya kecurigaan masyarakat. Namun hal ini menurutnya wajar, karena bukan hanya masyarakat, pemerintah kampung selaku pengelola juga baru memahami mekanisme penggunaan dana pada tahun 2018.
“Banyak memang yang mencurigai bahwa kami bermain dana desa. Ini karena masyarakat belum tahu kalau anggaran desaitu dialokasikan bertahap, pelaksanaan pekerjaannya juga bertahap. Tapi kami tidak mungkin salahkan masyarakat, karena kami sendiri saja masih terus belajar memahami mekanisme penggunaannya, apalagi masyarakat,” ungkapnya jujur. |KN1|
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik