
KAIMANA- Keberadaan benteng peninggalan Belanda, Fort du Bus, di Kampung Lobo mendapat perhatian Balai Arkeologi Papua. Belum lama ini, lembaga ini melakukan penelitian di lokasi ini.
Tim peneliti dari spesifikasi bidang arkelologi kolonial meneliti konstruksi bangunan dan lainnya untuk selanjutnya bisa menemukan jawaban mengapa pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu memilih Kampung Lobo sebagai tempat dibangunnya tugu.
“Tujuannya untuk menemukan faktor apa yang mendorong pemerintah kolonial Belanda pada masa itu membangun benteng di Kampung Lobo, serta bagaimana kehidupan sehari-hari mereka selama di Lobo. Ini yang ingin kami ketahui,” terang Sri Chiirullia Sukandar, SS, Ketua Tim Peneliti dari Badan Arkeologi Papua.
Ditemui disela kegiatan uji publik peninjauan ulang dokumen Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) dan Penulisan Naskah Akademis Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (RIPPARKAB) Kaimana yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaimana, Senin (3/12), Sri Sukandar mengatakan, penelitian dilakukan setelah adanya informasi terkait keberadaan benteng fort du bus.
Jumlah tim yang diturunkan untuk melakukan penelitian lanjut Sri Sukandar, sebanyak 8 orang. Tim mulai melakukan penelitian sejak 12 November hingga 30 November 2018. Selama penelitian, tim didampingi staf dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta masyarakat lokal.

Dijelaskan, dalam aktivitasnya, tim membuka 9 kotak galian. Dari beberapa kotak galian itu, tim menemukan struktur bangunan yang berfundasi setinggi lebih dari 1 meter kedalam tanah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tugu atau benteng dimaksud, sengaja dirancang untuk jangka waktu yang lama.
“Dari 9 kotak galian yang dibuka, kami menemukan struktur bangunan berupa fundasi yang tingginya lebih dari 1 meter kebawah tanah. Dari konstruksinya, kemungkinan bangunan tersebut dirancang khusus untuk waktu yang lama, karena struktur campuran materialnya sangat kuat sekali,” ungkapnya.
Selain fundasi tambah Sri, ditemukan pula struktur batas satu lapis diatas tanah yang diperkirakan merupakan jalan setapak, yang dibangun untuk kelancaran aktivitas mereka selama beberapa tahun disana.
Sejarah mencatat demikian Sri Sukandar, Belanda sendiri pada masa itu menempati benteng itu sekitar 8 tahun, dari tahun 1828-1835, lalu benteng tersebut dihancurkan pada bulan Februari 1836.
“Ada jalan setapak disana, tapi kami belum menemukan sudut atau ujung dari jalan tersebut,” ujar peneliti dengan spesifikasi bidang arkeologi kolonial ini.
Ditanya akan diapakan hasil penelitian ini kedepannya, Sri Sukandar mengatakan, setelah dirangkumkan dalam bentuk laporan dan diseminarkan, diharapkan bisa dijadikan acuan bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah perang di masa silam.
“Kita akan rekomendasikan lagi untuk penelitian lanjutan tentang kira-kira benteng itu seluas apa. Kemarin itu kita belum menemukan sudut dari struktur yang sudah kita temukan. Supaya bisa diketahui bagaimana tata ruang dari bangunan tersebut, bagaimana cara mereka membangun benteng itu dan dimana kira-kira posisi depan dan belakangnya,” pungkasnya. (CR12/IWI)
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik