
KAIMANA- Tindakan tidak terpuji ditunjukkan sejumlah oknum pedagang yang menjual barang lebih mahal kepada masyarakat kampung dibanding masyarakat kota.
Padahal masyarakat dari kampung ini datang dalam kondisi serba kekurangan, namun karena barang yang dibutuhkan untuk Natal tidak tersedia di kampung, mereka terpaksa berbelanja ke kota walau dengan biaya transportasi tinggi.
Tindakan para pedagang ini telah secara tidak langsung telah melahirkan kecemburuan sosial diantara masyarakat, bahkan membuat jurang pemisah antara kampung dan kota kian melebar.
Permainan harga pada pedagang ini dikeluhkan sejumlah warga yang ditemui di Pasar Air Tiba Krooy. Mereka mengaku membeli produk yang sama, bersama-sama pembeli dari kota di pedagang yang sama, namun harganya berbeda.
‘’Tadi beli telur ayam, katong disuruh bayar 85 ribu, sementara ibu yang orang kota tadi hanya bayar 60 ribu padahal dari rak yang sama. Pakaian juga semua mahal, beli satu potong saja uang langsung habis,’’ keluh warga.
Keluhan yang sama ternyata sampai juga ke telinga DPRD Kaimana. Pada penutupan Rapat Paripurna Penetapan APBD Kabupaten Kaimana Tahun Anggaran 2019, Ketua DPRD Frans Amerbay, meminta Pemerintah Daerah agar melakukan pengawasan harga barang di pasar.
‘’Menjelang natal ini kami mohon Pemerintah Daerah melakukan pengawasan terhadap harga-harga barang di pasar. Kami menemukan harga barang yang dijual untuk masyarakat kota dengan masyarakat dari kampung-kampung itu berbeda. Dibedakan karena yang beli orang dari kampung. Contoh harga bawang dijual kepada masyarakat kota 40 ribu tetapi kepada masyarakat kampung dijual dengan 60 ribu,’’ ungkap Frans.
Ia berharap azas keadilan sosial, terutama soal ekonomi, harus ditegakkan tanpa membedakan masyarakat kota dan masyarakat kampung.
‘’Ini sangat menyedihkan. Kami minta supaya instansi terkait untuk coba melakukan pengawasan terkait harga tersebut. Kami tidak ingin ada perbedaan antara masyarakat kampung dan masyarakat kota,’’ tutupnya. (IWI)
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik