
KAIMANANEWS.COM- Jamuan kasih bakar ikan bersama, akan menjadi salah satu acara inti Pesta Paduan Suara Gerejawi ke XII se-Tanah Papua di Kota Senja Indah Kaimana. Acara adat orang pantai ini, akan digelar Minggu 17 September 2017, terpusat disepanjang Pantai Bantemi, Jalan Utarom Kaimana.
Untuk mensukseskan acara ini, panitia Pesparawi XII telah menyiapkan 30 ton ikan, yang nanti akan disebarkan pada sejumlah titik pembakaran. Jamuan kasih melalui bakar ikan bersama ini, merupakan symbol persatuan dan kesatuan, untuk mempererat tali persaudaraan antara orang gunung dan orang pantai di Tanah Papua.
Bupati Kaimana, Drs. Matias Mairuma menyampaikan ini pada saat pengukuhan Relawan Pesparawi XII Kaimana, belum lama ini. Diakui, bakar ikan bersama para tamu Pesparawi, terinspirasi dari adat orang gunung, yang menggelar uacara adat bakar batu ketika menyambut tamu. Inspirasi ini lanjut Bupati, kemudian menjadi ‘nyambung’ dengan julukan Kaimana sebagai ‘kerajaan ikan.’
“Orang di gunung, ketika saudaranya datang, mereka gelar acara adat bakar batu. Ini terjadi di Wamena pada Pesparawi XI Tahun 2013 lalu. Hari ini, ketika mereka turun di pantai untuk bertemu saudara-saudaranya, apa yang harus kita buat. Mereka tidak minta apa-apa, tetapi ini adat kita di Tanah Papua. Oleh karenanya, tanggal 17 September, akan ada acara bakar ikan bersama di Pantai Bantemi. Ikan 30 ton akan dihambur disitu, untuk dinikmati oleh seluruh tamu,” ujar Bupati Mairuma dihadapan 1000 relawan.
Lebih jauh orang nomor satu Kaimana ini juga menjelaskan, jamuan kasih bakar ikan bersama dimunculkan dalam Pesparawi XII, karena hanya melalui Pesparawi, orang Papua yang tinggal di gunung dan pantai bisa bertemu. Pesparawi di Kaimana dan bakar ikan bersama lanjut Bupati lagi, diharapkan bisa mempererat ikatan persaudaraan dan kekerabatan antara orang gunung dan orang pantai.
Ditambahkan, Pesparawi akan menjadi momentum pembaharuan komitmen dari para tokoh Papua, yang menginginkan agar Pesparawi di Tanah Papua tetap dijadikan satu, meskipun Papua hari ini dan kedepannya, terbelah menjadi beberapa provinsi, kabupaten maupun kota dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Tepatnya di pulau bersejarah Mansinam waktu itu, dua pemimpin Papua, Barnabas Suebu dan Abraham Atururi berikhtiar bahwa walaupun secara pemerintahan Papua terbelah menjadi beberapa provinsi, kabupaten atau kota, masyarakat Papua harus tetap satu dan yang mempersatukannya adalah Pesparawi. Sebagai orang yang tinggal di Tanah Papua, mari kita wujudkan komitmen ini,” pungkasnya. ***
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik