
WAKTU terus berputar, tak terasa negeri yang dijuluki Kota Senja Indah Kaimana ini telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah usia yang secara anatomi manusia sedang menuju kepada kematangan.
Di usianya yang ke-17 tahun ini, tak bisa dipungkiri, ada banyak kemajuan pembangunan yang telah dicapai, meskipun tak sedikit pula yang menimbulkan kekecewaan dan protes warga, akibat program yang dilaksanakan tidak sesuai harapan bahkan belum merata.
Hal ini wajar, karena selain keterbatasan anggaran, negeri ini juga tidak hanya dihuni oleh satu atau dua orang, tetapi ada ribuan orang dengan latar belakang suku, agama, ras, golongan, serta karakteristik yang berbeda-beda didalamnya.
Negeri ini juga cukup luas, yang dipetakan kedalam 7 distrik, 84 kampung dan 2 kelurahan, dengan luas wilayah secara keseluruhan 36.000 km² (±18.500 km² daratan dan ±17.500 km² lautan/perairan) yang diatasnya terdapat ±330 pulau-pulau kecil.
Sehingga tak heran bila program pembangunan yang ditelurkan Pemerintah Daerah belum menyentuh semua aspek kehidupan, belum merata merambah hingga ke pelosok kampung, dan belum sepenuhnya mengakomodir kepentingan masyarakat.
Masih banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, masih banyak kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi, masih banyak pula persoalan masyarakat yang belum terpecahkan.
Ini adalah bagian dari sebuah proses yang disebut dengan dinamika pembangunan. Bahwa pembangunan Kabupaten Kaimana saat ini sedang ditata untuk dibawa kearah yang lebih baik menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dewasa ini.
Dan hari ini, negeri yang dahulu hanya lah sebuah dusun kecil, yang kemudian berubah status menjadi kampung dan distrik, lalu dimekarkan menjadi kabupaten pada tahun 2003, memasuki usia 17 tahun.
Namun ada yang berbeda dari ulang tahun Kabupaten Kaimana 12 April 2020 kali ini. Biasanya ada perlombaan dan hingar bingar musik dan tari yang disuguhkan untuk menyambut hari jadinya. Biasanya ada pesta rakyat yang digelar sebagai penyemangat dan wujud syukur.
Kali ini semuanya tampak kelabu, Corona Virus Diseas 2019 (Covid-19) telah mengubah segalanya menjadi hening, sepi hingga tampak tak hidup. Ia mengubah rasa suka cita menjadi sebuah ketakutan yang teramat sangat, dan mengubah rasa bahagia menjadi sebuah kesedihan.
Penyebaran virus ini kian hari kian meluas dan Kaimana termasuk salah satu daerah yang mulai terpapar, setelah adanya sejumlah terduga berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan), OTG (Orang Tanpa Gejala) bahkan PDP (Pasien Dalam Pengawasan).
Ia menyerang siapa saja, ia tidak memandang usia, apalagi status sosial seseorang. Dia tidak peduli agama kita apa. Dia tidak memandang miskin atau kaya, pejabat atau bukan, laki-laki atau perempuan.
Bagi dia, tubuh manusia adalah tempat ternyaman untuknya bersarang. Ia melesat masuk kedalam tubuh dan mengobrak-abrik organ yang ada didalamnya.
Corona telah melumpuhkan benteng pertahanan kita. Bahkan bukan hanya individu yang tumbang akibat serangannya, tetapi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia juga tak berdaya menghadapinya.
Lihat saja, banyak korban berjatuhan, ribuan orang terbaring di rumah sakit karena serangannya yang membabi buta, dan ribuan orang akhirnya meninggal dunia, meskipun tak sedikit pula yang berhasil melewati masa kritis dan sembuh.
Entah sampai kapan badai ini akan terus mengancam. Karena Covid, HUT Kabupaten Kaimana 12 April 2020 kali ini, menjadi ulang tahun paling buruk sepanjang 17 tahun catatan perjalanan Kabupaten Kaimana.
Semoga ini hanya merupakan sebuah ujian dari yang Maha Kuasa untuk kita semua makhluk ciptaanNya. Mari kita sama-sama optimis, bahwa, Badai Pasti Berlalu…
Sebuah Opini
Coretan: Isabela Wisang
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik