
Penulis : Christian Gerard Murmana, S.Pd
Pendidikan saat ini dihadapkan pada situasi dan kondisi dunia dengan merebaknya virus yang sangat berbahaya dan sudah merenggut jiwa umat manusia di muka bumi ini, termasuk juga Indonesia dan lebih khusus di Papua Barat. Merebaknya virus mematikan ini, berdampak ke semua sektor kehidupan, bahkan pendidikan pun menerima imbasnya.
Oleh sebab itu dengan situasi dan kondisi yang serba sulit ini pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengupayakan bagaimana caranya sehingga pendidikan itu dapat dilaksanakan dan berjalan dengan baik, walaupun dalam situasi Covid-19 ini.
Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional pasal (1) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan, dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Terkait dengan itu pada pasal (6) dari undang-undang pendidikan itu juga di katakana bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualitas sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Terkait dengan tema yang diangkat oleh penulis sebagai suatu bahan yang akan di kaji tentang bagaimana pembelajaran matematika di saat dan kondisi pandemi covid 19 yang tidak kunjung reda ini. Dewasa ini baik sebelum pandemi covid-19 yang melanda dunia saat ini bahkan di Indonesia pembelajaran matematika khususnya di tingkat SD di Kaimana berjalan baik, karena pembelajarannya dilakukan dengan tatap muka baik itu guru dan siswa.
Dengan situasi dan kondisi pandemic covid-19 saat ini himbauan dari pemerintah maupun dinas terkait harus melakukan pembelajaran dari di rumah. Khusus untuk pembelajaran matematika tidak akan mendapat kemajuan yang berarti jika pembelajaran hanya di berikan oleh guru dan menyuruh anak mengerjakannya di rumah kemudian akan dikumpulkan tanpa adanya tatap muka atau penjelasan yang memerlukan waktu bagi guru untuk menjelaskan karena materi pembelajaran matematika agak berbeda dengan pembelajaran lainnya.
Terkait dengan hal ini guru harus mengambil langkah-langkah atau metode yang tepat untuk mensiasati pembelajaran matematika. Sebelum terjadinya covid-19 pemerintah Kabupaten Kaimana pernah mengadakan program matrikulasi MIPA dan diikuti oleh beberapa sekolah yang berada di kabupaten Kaimana.
Dari program pembelajaran matematika ini adanya peningkatan dan juga dibantu guru-guru dari sekolah asalnya yang tadinya di bawah rata-rata ada semacam peningkatan bagi siswa. Ketika terjadi pandemi covid -19 saat ini mengakibatkan kemampuan siswa khusus dalam pembelajaran matematika di SD dengan sendirinya akan menurun. Terkait dengan undang-undang pendidikan, pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualitas sebagai guru di samping itu juga guru mampu membidangi pembelajaran matematika.
Lebih khusus kami penulis mengkaji bahwa untuk pembelajaran matematika dalam hal ini untuk meningkatkan mutu pembelajarannya, faktor utamanya datang dari guru dan siswa itu. Untuk pembelajaran matematika tingkat SD dengan situasi dan kondisi saat ini di butuhkan kefokusan oleh siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan daring agak sulit nantinya diterima oleh siswa.
Pembelajaran matematika perlu ketekunan, suka terhadap materinya dan butuh penanganan khusus oleh guru. Hal semacam ini kalau tidak di antisipasi sejak dini akan menimbulkan menurunnya kemampuan pembelajaran matematika di tingkat SD. Karena khusus pembelajaran matematika kalau diajarkan harus tatap muka, bagi pembelajaran yang dilakukan melaui zoom atau hanya diberika tugas dari sekolah untuk dikerjakan di rumah.
Pembelajaran matematika di SD saat pandemi covid -19 ini harus berdasarkan kisi-kisi yang ada, atau berurutan. Seorang guru mempunyai tugas yang sangat berat apalagi di saat pandemi covid- 19 yang kita belum tahu kapan berakhir menuntut ekstra kerja mengoptimalkan pembelajaran matematika ini.
Kita guru dengan adanya covid -19 ini khusus untuk pembelajaran matematika ini tidak hanya memberika tugas kepada siswa dari sekolah untuk di bawah pulang dan di kerjakan di rumah atau pembelajaran daring, pembelajaran ini merupakan pembelajaran luring atau tatap muka agar siswa itu lebih konsen dalam mengikuti materi ini.
Disisi lain peran orang tua juga diharapkan untuk membantu siswa di rumah dalam pembelajaran ini Pembelajaran matematika dewasa ini yang kami amati setelah anak itu menginjakkan kakinya di kelas yang lebih tinggi terutama kelas V dan kelas VI SD di dapati siswa kurang bisa lancar menghafal tabel perkalian, terbukti ketika ditanya Penjumlahan, pengurangan, pembagian perkalian agak sulit untuk di jawab, kadang membutuhkan beberapa menit untuk menjawabnya.
Sehingga siswa ini dikategorikan ke kepada siswa yang belum tuntas dalam pembelajarannya. Hal-hal seperti ini yang mengakibatkan rendahnya kualitas pembelajaran matematika sehingga banyak anak menganggap matematika merupakan pelajaran yang dianggap sulit untuk di terima. Disisi lain pembelajaran matematika dalam pembelajarannya di butuhkan guru yang mampu dan membidangi pembelajaran ini, bagaimana kalau gurunya kurang mampu.
Terkait dengan itu penulis sarankan kedepannya kalau bisa pembelajaran khusus mateamatika harus berdiri sendiri, tidak terkait dengan pembelajaran lainnya dan guru yang mengajarkan pembelajaran ini adalah guru yang mempu mengajar atau memang betul-betul guru tersebut di bidangnya.
Dari pembelajaran matematika selama ini dilihat bahwa dalam pembelajaran monoton menggunakan metode yang kurang pas dalam pembelajaran ini. Sehingga banyak guru melimpahkan kesalahan kepada siswa karena kurang mampu mengikuti pembelajaran matematika ini dengan baik dan juga kurang memahami pembelajaran matematika tersebut.
Hal ini mengakibatkan guru kelas menyalahkan guru kelas dibawahnya sampai kekelas yang lebih rendah karena tidak melaksanakan pembelajaran secara tuntas pembelajaran ini. Hal tersebut ini kalau tidak disikapi bersama pemerintah dengan pihak terkait akan sangat fatal.
Pembelajaran matematika di SD adalah dasar menuju jenjang yang lebih tinggi, kenapa dapat kita lihat bahwa tamatan-tamatan sekolah menengah atas anak-anak papua sulit bahkan jarang mengikuti perkuliahan matematika di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kalaupun ada hanya satu dan dua bahkan tidak ada sama sekali. Mereka lebih memilih program studi lain dari pada program studi matematika ini.
Terakhir kami penulis sangat mengharapkan kalau bisa khusus pembelajaran matematika oleh pemerintah dipisahkan dari pembelajan lain di samping itu juga direkrut guru yang khusus guru yang membidangi pembelajaran matematika. Sehingga kedepannya lebih baik dan anak-anak papua bisa dan lebih menyukai pembelajaran ini lebih dari pada itu dalam memasuki perguruan tinggi bisa memilih program studi ini.
Penulis adalah guru SD Negeri Matoa, Kaimana, Mahasiswa Magister Managemen Pendidikan, Universitas Negeri Cenderawasih, Papua.












KAIMANA NEWS Media Informasi Publik