
Oleh: RAHMALIA PUARADA, S.Pd
Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) kini menjadi wabah penyakit yang sangat serius dan berbahaya di seluruh penjuru dunia, karena telah merenggut ribuan nyawa. Untuk mencegah meluasnya virus corona kini telah menjadi prioritas utama di sejumlah Negara, termasuk Indonesia.
Segala kegiatan yang mengundang keramaian, kerumunan, dan interaksi sudah diblokade, termasuk bersekolah. Kegiatan sekolah kini diliburkan untuk beberapa saat ke depan. Warga negara kini disuruh “tinggal di rumah” sebagai salah satu bentuk upaya pencegahan penularan virus corona.
Pemerintah benar- benar ketat dalam menindak lanjuti hal ini. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim telah mengeluarkan surat edaran pelaksanaan pendidikan di masa darurat Covid-19 pada Maret lalu dimana satu kebijakannya yang mengatur proses pembelajaran untuk dilakukan secara online dari rumah masing-masing.
Dengan demikian, tidak akan terjadi tatap muka antara guru dengan siswa. Padahal, interaksi guru dengan siswa dalam proses belajar dan mengajar sangar penting bagi siswa dan guru. Tahun ajaran baru 2020/2021 telah dimulai sejak senin,13 Juli 2020. Tahun ajaran baru yang berbeda dibanding tahun ajaran baru sebelum-sebelumnya.
Kegiatan belajar dan mengajar di sekolah tahun ini pun berbeda dengan Kegiatan Belajar dan Mengajar tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun ajaran baru sebelumnya kegiatan Belajar Mengajar di sekolah biasanya guru akan mengisi waktunya untuk meminta siswa berkenalan di depan kelas, dan menceritakan kegiatan liburannya, maka tahun ajaran baru ini guru harus memutar otak bagaimana agar siswa bisa belajar kembali, bisa bertatap muka kembali baik langsung maupun tidak langsung,atau meminta guru akan mengetahui bagaimana kondisi siswa-siswanya di rumah .
Di masa pandemi Covid-19 saat ini, sekolah sibuk mencari alternatif untuk menyampaikan kegiatan pembelajaran kepada siswa baik secara online maupun pemberian tugas kepada siswa melalui chat dan guru mengunjungi siswanya dari rumah ke rumah.
Kendala yang dihadapi dalam proses KBM saat pandemi ini adalah banyak siswa yang tidak memiliki Handphone (Hp). Sehingga, proses belajar mengajar secara online hasilnya tidak maksimal. Hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya perihal perekonomian. Mayoritas orang tua siswa yang bekerja sebagai petani,nelayan dan pedagan sayuran, papalele keci-kecilan di pasar. Kondisi perekonomian yang demikian mengakibatkan orang tua keberatan untuk membeli handphone.
Sekolah sebenarnya tidak pernah mewajibkan siswa memiliki handphone. Bagi siswa yang tidak memiliki handphone, mereka bisa bergabung dengan teman yang mempunyai handphone apabila ada tugas dari guru atau jika diadakan kelas virtual. Namun, kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi ini tetap berlangsung walaupun banyak mengalami kendala.
Melihat kondisi demikian, maka KBM yang guru lakukan adalah dengan memberikan pembelajaran kepada siswa dengan cara berfariasi. Ada guru yang melakukan pembelajaran virtual menggunakan aplikasi zoom. Ada guru yang memberikan tugas melalui chat, ada guru yang menyuruh siswanya mengambil tugas di sekolah untuk dikerjakan di rumah, dan ada guru yang melakukan pembelajaran keliling dari rumah ke rumah.
Kami para guru berharap kegiatan pembelajaran yang telah kami rancang bersama ini dapat berjalan dengan lancar, meskipun banyak mengalami kendala. Kami para guru juga tetap menjaga protokol kesehatan yaitu tetap mengajak siswa untuk social distancing, menggunakan masker, dan tidak lupa mencuci tangan.
Pada akhirnya kita menyadari bahwa pandemi ini menuntut guru memutar otak, mencari solusi dalam rangka menyelesaikan permasalahan belajar dalam masa-masa pandemi. Kami harus tetap berjuang bagaimana caranya agar siswa-siswi kita tidak terabaikan, dan tujuan transfer ilmu tetap terlaksana. Pandemi ini juga mengajarkan kepada para guru untuk sabar dan ikhlas dalam mendidik siswa- siswanya. Kelak kita dan para siswa akan memiliki sejarah rasanya belajar dan mengajar di tengah pandemi covid 19.
*) Penulis adalah Guru SD Negeri Matoa, Kaimana, saat ini tengah mengikuti program perkuliahan S2 Magister Pendidikan pada Universitas Negeri Cenderawasih, Papua.













KAIMANA NEWS Media Informasi Publik