
( Sebuah Catatan Untuk Direnungkan )
OLEH : ANDY BIBIREME
Politik identitas dan retorika adalah senjata Pamungkas yang seringkali digunakan oleh para elit Politik dalam setiap perhelatan pesta demokrasi baik pemilihan anggota Legislatif, Kepala Daerah, Gubernur, bahkan sampai pada pemilihan Presiden.
PemiluKada yang akan diselenggarakan pada bulan Desember nanti akan menjadi ajang pertarungan para elit politik daerah untuk merebut kekuasaan. Politik Identitas dan Retorika sudah tentu akan menjadi isu-isu terselubung yang telah dirumuskan para tim sukses untuk memperoleh simpati dan dukungan bagi Kandidat.
Dalam memaknai politik identitas dan Retorika, alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan politik identitas dan Retorika.
(1). Politik identitas, menurut Parsudi Suparlan (2004), adalah pengakuan terhadap seorang individu atau suatu kelompok tertentu yang dikaitkan, diletakannya rangkaian ciri-ciri atau karateristik tertentu yang menjadi satu kesatuan menyeluruh, yang menandai masuk dalam satu kelompok atau golongan tertentu.
Sri Astuti Buchari (2014) mengemukakan, bahwa konsep identitas secara umum dapat dimaknai sebagai sebuah citra yang membedakan individu atau suatu kelompok dengan individu atau kelompok lain, yang dilakukan secara simultan (bersama) dalam interaksi sosial sampai memunculkan opini tertentu yang berkaitan dengan keberadaan individu atau kelompok tersebut.
(2). Retorika adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi melalui karakter pembicara, emosional atau argumen. Awalnya, Aristoteles mencetusnya dalam dialog sebelum The Rhetoric dengan judul “Grullos atau Plato enulis dalam Gorgias, secara umum adalah seni manipulatif atau teknik persuasi politik bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan dan pengharapan mereka.
Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969), sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis. Bagaimanapun defenisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas.
Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (defenisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktik kontemporer dan retorika yang termasuk analisis atas teks tertulis dan visual (Wikipedia). Dengan demikian, Retorika secara gamblang dapat diartikan sebagai rayuan, tipuan, agar si perayu atau penipu tersebut dapat memiliki apa yang dikehendaki.
Dari pendapat diatas secara umum dapat disimpulkan bahwa Politik identitas adalah suatu aliran politik yang ingin melibatkan seseorang atau kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan karateristik, seperti; suku, agama, etnisitas, ras dan sebagainya.
Pada setiap perhelatan Pemilihan Kepala Daerah, Politik Identitas selalu menjadi Isu utama yang memegang peran penting dalam mempengaruhi setiap pilihan politik dari masyarakat.
Oleh karena itu, kita sering mendengar seruan bahwa agama tertentu harus memilih yang sesuai dengan agamanya, suku dan ras tertentu harus memilih sesuai dengan suku serta rasnya masing-masing.
Seruan-seruan tersebut akan dipertajam pula dengan seruan Etnisitas yang sangat emosional yang akan melahirkan perjuangan dari kelompok-kelompok tertentu daan mendominasi etnis mayoritas. Isu ini akan diperkuat lagi apabila dalam pemilihan nanti perilaku pemilihnya masih memegang teguh tradisi dan kepercayaan yang ia miliki.
Beberapa isu yang telah dikemukakan diatas, akan menjadi isu politik bagi para kontestan untuk menghimpun para pemilih yang memiliki kesamaan karateristik baik suku, agama dan ras. (Frans B.R. Humau, 2019, Politik Identitas dan pemilukada Kabupaten Alor periode 2013-2018, PKP publikasi.undana.ac.id )
Dalam berbagai penelitian, ada dua faktor yang seringkali muncul dan menarik untuk dijadikan isu utama dalam pesta demokrasi yakni Etnis dan Agama, untuk dipakai mempengaruhi massa dalam proses Politik.
Pertama; ketika etnis dan agama menjadi faktor yang dipertaruhkan, ada semacam keperluan untuk mempertahankan atau membela identitas yang dimiliki satu kelompok. Kedua; ketika proses politik tersebut berlangsung secara kompetitif, artinya proses politik itu menyebabkan kelompok-kelompok identitas saling berhadapan dan tidak ada yang dominan, sehingga tidak begitu jelas siapa yang akan menjadi pemenang.
Pemilihan umum, termasuk Pilkada adalah proses politik dimana berbagai faktor identitas menjadi pertaruhan. Tinggal bagaimana aktor-aktor yang terlibat didalamnya mengelola isu-isu seperti etnis dan agama menjadi hal yang masuk dalam pertaruhan demi memenangkan Pertarungan. (Juhana Nazrudin & Ahmad Ali Nurdin, 2018, Politik Identitas dan Representasi Politik, journal.uinsgd.ac.id ).
Alkisah, suatu hari kecantikan dan keburukan bertemu ditepi laut. Dan mereka saling berkata “ marilah kita berenang kelaut. Lalu mereka menanggalkan pakaian dan berenang. Setelah beberapa saat, keburukan kembali ke tepi dan mengenakan pakaian kecantikan kemudian pergi dan saat kecantikan keluar dari laut ia tidak menemukan pakaiannya, karena malu untuk telanjang akhirnya ia mengenakan pakaian keburukan. Dan hingga hari ini kita tidak mampu mengenali mereka satu per satu hanya ada beberapa orang yang mengenali kecantikan meskipun ia menggunakan pakaian keburukan karena pakaian yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan wajah aslinya. (Kahlil Gibran, Pakaian).
Retorika, pembujuk rayuan ini adalah suatu pendekatan persuasif untuk memperoleh simpati dari para pemilih dengan janji-janji manis yang diucapkan dan meyakinkan lawan bicaranya. Seringkali pembujuk rayuan tersebut bisa saja di dramatisasi dengan tangisan hingga bersujud dan memohon kepada pemilih agar dapat terlena dalam rayuannya.
Retorika bisa disebut dengan “Baku tipu“ (Tipu Muslihat). Kahlil Gibran telah mengingatkan kita lewat puisinya, bahwa; pakaian kecantikan telah tertukar dengan pakaian keburukan dan hingga kini kita tidak mampu mengenali mereka satu per satu.
Artinya bahwa; bila “kecantikan“ menghampiri kita untuk merayu dengan segala isu, baik isu agama, suku, etnis dan sebagainya, ingatlah bahwa “kecantikan” sementara menggunakan pakaian keburukan. Atau dibalik pendekatan yang dilakukan, terselubung maksud yang buruk, demikian sebaliknya.
Pada perhelatan pesta demokrasi, isu politik identitas dan retorika pasti dipakai sebagai senjata pamungkas bagi masing-masing kandidat dan tim suksesnya. Hal ini bukannya hal yang baru sebab telah dipakai diseluruh tanah air pada ajang demokrasi.
Perlu diingat bahwa orientasi politik kearah identitas yang melibatkan suku, agama, etnis dan sabagainya, merupakan hal yang membahayakan dan bisa berpotensi terjadinya intoleran.
Bagi para pemilih; hak politik adalah hak mutlak yang anda miliki dan dibawa sejak lahir. Untuk itu gunakanlah hak pilih anda dengan bijak. Bagi para tim sukses dan para kandidat, bila anda telah terjun dalam dunia politik, artinya anda dikatakan sebagai seorang negarawan.
Seorang negarawan yang sejati lebih mementingkan kepentingan bersama dari pada kepentingan individu atau kelompok. Dan bagi kita semua, agar tetap menjaga keamanan dan kedamaian di daerah ini.
Siapa kah kandidat yang akan memenangkan pemilukada nanti?, kita tunggu hasilnya. Setelah itu, pada akhirnya kita akan kembali pada komunitas kita masing-masing; si miskin tetap menjerit, yang kaya tetap berpesta pora (Black Brother`s), petani tetap jadi petani, nelayan tetap jadi nelayan.
Selamat melaksanakan pesta demokrasi, SALAM DAMAI!!!
KAIMANA NEWS Media Informasi Publik